Investor Pasar Modal Melonjak, IHSG Malah Anjlok 6,96% pada September
Oleh: Harry

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Jumlah investor pasar modal Indonesia bertambah 1,03 juta pada September 2026 menjadi 32,17 juta investor.
Namun, pertumbuhan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,96% sepanjang September dan turun 29,79% sejak awal tahun.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor asing membukukan jual bersih (net sell) saham sebesar Rp10,24 triliun sepanjang September.
Hingga 2 Oktober 2026, total net sell asing mencapai Rp82,55 triliun.
Financial Market Analyst EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan koreksi tersebut menjadi ujian bagi basis investor baru yang mayoritas masih berusia muda dan memulai investasi dengan dana relatif kecil.
“Dengan memahami apa saja yang bisa menggerakkan IHSG, mulai dari aturan perdagangan, aliran dana asing, hingga review indeks, investor dapat menyikapi pergerakan harga dengan tepat, bukan sekadar bereaksi,” ujar Sana dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10).
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), 55,25% investor individu per Agustus 2026 berusia 30 tahun ke bawah.
Meski mendominasi jumlah investor, kelompok tersebut hanya menguasai 3,87% aset investor individu. Sebaliknya, investor berusia di atas 60 tahun menguasai 48,65% aset.
Di sisi lain, investor ritel menyumbang sekitar 52% nilai transaksi harian pada awal 2026 berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan pasar juga datang dari perubahan aturan perdagangan.
Sejak 28 September 2026, harga saham minimum di pasar reguler dan pasar tunai turun dari Rp50 menjadi Rp1. BEI juga mulai membuka fasilitas short selling bagi investor individu domestik sejak 1 Oktober 2026.
Fasilitas tersebut berlaku untuk saham yang memenuhi kriteria dan memungkinkan transaksi short selling secara intraday.
“Semakin rendah harga saham, semakin besar persentase perubahan dari pergerakan rupiah yang sama. Karena itu, harga saham yang murah bukan berarti risikonya rendah,” kata Sana.
Selain aturan perdagangan dan arus dana asing, pelaku pasar akan mencermati keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026 dan The Federal Reserve pada 27–28 Oktober 2026.
Pasar juga akan memperhatikan perkembangan geopolitik, pemilu sela AS pada 3 November, serta hasil review indeks MSCI November yang dijadwalkan diumumkan pada 11 November 2026.
MSCI sebelumnya menyatakan akan mempertimbangkan sejumlah opsi apabila tidak terdapat kemajuan yang jelas terkait reformasi transparansi pasar Indonesia, termasuk konsultasi mengenai kemungkinan penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Lebih lanjut Sana menilai, investor perlu memahami berbagai faktor penggerak IHSG sebelum mengambil keputusan investasi.
“Jika IHSG bergerak tajam di sekitar keputusan bank sentral atau pengumuman MSCI, investor sebaiknya bertanya lebih dulu apakah pergerakan itu dipicu peristiwa tersebut, bukan semata-mata oleh kinerja perusahaan,” tandasnya.




