nilai tukar mata uang rupiah|EBC Financial Group|Sana Ur Rehman

Rupiah Tembus Rp18.031, EBC Ungkap 5 Faktor Penentu Nasib Mata Uang Garuda

Oleh: Harry

02 Oktober 2026, 09:46
Rupiah Tembus Rp18.031, EBC Ungkap 5 Faktor Penentu Nasib Mata Uang Garuda

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan sempat menyentuh Rp18.031 pada Selasa (29/9/2026).

Pelemahan ini meningkatkan kewaspadaan pasar di tengah tekanan global dan domestik yang masih membayangi mata uang Garuda.

EBC Financial Group menyoroti lima indikator utama yang akan menentukan arah rupiah, yakni harga minyak dunia, imbal hasil obligasi AS, arus modal asing, kebutuhan valuta asing (valas) domestik, serta cadangan devisa dan intervensi Bank Indonesia (BI).

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan pelaku pasar perlu mencermati faktor-faktor fundamental di balik pelemahan rupiah, bukan sekadar terpaku pada level Rp18.000.

“Level Rp18.000 memang menjadi sorotan utama, tetapi cerita sebenarnya ada pada angka-angka di baliknya: harga minyak, imbal hasil obligasi AS, dan arus modal asing. Pertanyaan kuncinya adalah apakah indikator-indikator ini bergerak bersamaan atau mulai berlawanan arah,” jelas Sana dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026).

BI menyebut pelemahan rupiah dipicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal.

Tekanan juga meningkat akibat lonjakan permintaan dolar AS oleh importir menjelang akhir kuartal III serta arus keluar modal dari negara berkembang.

Jika tekanan berlanjut, rupiah berisiko melemah menuju Rp18.200 per dolar AS.

Meski demikian, arah pergerakan rupiah sangat bergantung pada kombinasi sejumlah faktor, bukan satu indikator semata.

Harga Minyak dan Kebuntuan Selat Hormuz

Harga minyak dunia yang melonjak di atas US$108 per barel di tengah mandeknya negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu sumber tekanan.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS ketika harga energi meningkat.

Selama harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, kerentanan rupiah akan meningkat, terutama jika disertai kenaikan imbal hasil obligasi AS dan arus keluar modal asing.

Sebaliknya, kemajuan mediasi AS-Iran yang mendorong penurunan harga minyak, ditambah intervensi BI, berpotensi membawa rupiah kembali ke kisaran Rp17.950–Rp17.800 per dolar AS.

Imbal Hasil Obligasi AS dan Kebijakan The Fed

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke 5,23% pada Jumat (25/9/2026), tertinggi sejak 2007.

Angka ini meningkat dari kisaran 4,15% pada awal tahun, dipicu inflasi yang persisten, besarnya penerbitan obligasi, serta lonjakan investasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Kenaikan tersebut terjadi setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September menjadi 3,75%–4,00%, kenaikan pertama sejak 2023.

Pejabat The Fed juga membuka peluang kenaikan lanjutan tahun ini.

Imbal hasil yang tinggi membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik dan mempersempit keunggulan imbal hasil aset rupiah. Jika imbal hasil US Treasury bertahan di atas 5%, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar.

Arus Modal Asing dan Insentif Lindung Nilai

Arus keluar modal dari pasar negara berkembang turut menekan rupiah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BI memperluas insentif lindung nilai melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

Gubernur BI, Destry Damayanti menyebut kebijakan tersebut telah mendorong arus modal masuk sekitar US$6 miliar dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan.

Namun, efektivitas insentif ini bergantung pada sumber tekanan.

Jika pelemahan rupiah dipicu biaya lindung nilai yang tinggi atau kekurangan pasokan dolar sementara, insentif dapat membantu.

Sebaliknya, jika ekspektasi depresiasi terus meningkat, investor akan tetap mempertimbangkan imbal hasil dan risiko serta kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi.

Lonjakan Impor dan Kebutuhan Valas

Dari sisi domestik, meningkatnya permintaan valas oleh importir menjelang akhir kuartal III turut memperberat tekanan rupiah.

Data Januari–Juli 2026 menunjukkan ekspor Indonesia tumbuh 4,43% secara tahunan, sedangkan impor melonjak 19,94%. Ketimpangan ini diperkirakan berlanjut pada Agustus.

Konsensus Bloomberg memperkirakan ekspor Agustus tumbuh 4,15% secara tahunan, sementara impor meningkat 30,47%.

Surplus neraca perdagangan diproyeksikan hanya mencapai US$700 juta.

Surplus yang menyempit berpotensi mengurangi pasokan dolar AS di pasar domestik.

Pergerakan rupiah pada awal Oktober juga akan menjadi petunjuk untuk membedakan tekanan musiman akibat kebutuhan valas akhir kuartal dari persoalan yang lebih struktural.

Cadangan Devisa dan Intervensi BI

Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

BI terus melakukan stabilisasi melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Destry menyebut porsi intervensi spot, yang relatif mahal, telah turun menjadi sekitar 30% dari total intervensi.

BI juga mengakui tekanan rupiah berkaitan dengan persoalan fundamental dan struktural yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi.

Di sisi suku bunga, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur September.

Kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi, tetapi berisiko menekan pertumbuhan kredit dan ekspansi ekonomi.

Karena itu, intervensi pasar dan optimalisasi pasokan valas dari ekspor menjadi langkah yang lebih diutamakan.

Lebih lanjut Sana menegaskan, arah rupiah ke depan akan ditentukan oleh pergerakan kelima indikator tersebut secara bersamaan.

“Satu indikator saja jarang cukup untuk mengubah arah rupiah. Harga minyak bisa turun, tetapi jika imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan modal asing belum kembali, tekanan tidak akan mereda,” pungkasnya.

Berita Terkini

See More