PGEO|energi panas bumi|budidaya kubis|Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert)|PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE)|HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert)|Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang

Panas Bumi Kamojang Berbuah 70 Ton Kubis, Petani Hemat Rp20 Juta

Oleh: Corri

02 Oktober 2026, 10:07
Panas Bumi Kamojang Berbuah 70 Ton Kubis, Petani Hemat Rp20 Juta

Foto: dok. PGEO

Pasardana.id – Seabad pengembangan panas bumi di Kamojang tak hanya menghasilkan listrik.

Di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, energi panas bumi kini dimanfaatkan untuk mendukung pertanian melalui inovasi pupuk organik Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert).

Pemanfaatan tersebut terlihat dalam kegiatan HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) yang digelar PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) Area Kamojang sepanjang September 2026.

Melalui program bertema “Dari Panas Bumi, Tumbuh untuk Masa Depan Berkelanjutan”, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan 1,2 hektare.

Sejumlah kubis bahkan mencapai bobot sekitar 6 kilogram per buah, atau dua kali lipat rata-rata kubis lokal sekitar 3 kilogram.

Hasil panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Penggunaan GeO-Fert juga menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

GeO-Fert memanfaatkan ekses uap dari PLTP Kamojang bersuhu 60–70 derajat Celsius untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik.

Teknologi tersebut memangkas waktu pengeringan dari sekitar 14 hari menjadi hanya sekitar 12 jam.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho mengatakan, inovasi tersebut merupakan bentuk pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik atau Beyond Electricity.

“Selama ini, panas bumi memang lebih dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” ujarnya dalam keterangan tertulis Jumat (02/10).

Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert digunakan.

Pupuk organik padat diberikan pada tahap awal penanaman, sedangkan pupuk organik cair diaplikasikan setiap 15 hari selama masa budidaya.

Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni menilai, GeO-Fert tidak hanya membantu petani memproduksi pupuk secara mandiri, tetapi juga mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lahan pertanian.

Program serupa sebelumnya diterapkan pada budidaya kentang.

Pada April 2026, lahan sekitar 4.200 meter persegi yang menggunakan GeO-Fert menghasilkan 7.581 kilogram kentang, lebih tinggi dibandingkan 4.525 kilogram dengan metode konvensional.

Biaya produksi juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun.

GeO-Fert kini turut digunakan untuk berbagai komoditas lain, seperti cabai, tomat, dan labu siam.

General Manager PGE Area Kamojang, Albertus Novi Purwono mengatakan, HAREPAN menunjukkan keterkaitan langsung antara pemanfaatan panas bumi, pengelolaan limbah organik, dan peningkatan produktivitas pertanian masyarakat.

GeO-Fert merupakan bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang diperkuat PLTS mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh.

Ekosistem tersebut mengintegrasikan energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat.

Selain pertanian, program pemberdayaan PGE Area Kamojang juga menghasilkan berbagai produk masyarakat, seperti keripik hasil bumi, teh daun kopi, ikan asin, dan pakan ikan yang memanfaatkan teknologi pengeringan berbasis panas bumi.

Melalui berbagai program TJSL, PGE terus mendorong pemanfaatan panas bumi agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung prinsip ESG dan pencapaian SDGs.

Berita Terkini

See More