Eskalasi Konflik Iran dan Israel Tingkatkan Risiko Makro Ekonomi Indonesia

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Eskalasi konflik serangan Iran ke Israel selain memicu ketegangan regional hingga ke tingkat global, juga berdampak kepada meningkatnya risiko makro ekonomi Indonesia.

"Konflik Timur Tengah dapat mempengaruhi berbagai indikator ekonomi global hingga nasional, sehingga harus diwaspadai dan segera diantisipasi," tulis keterangan Tim Riset Ekonomi Bank Mandiri, Selasa (16/4/2024).

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan, bahwa secara fundamental, perekonomian Indonesia masih cukup kuat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat terjaga di atas 5% dengan inflasi yang terkendali.

Adapun adanya ketegangan konflik Iran dan Israel tersebut, saat ini telah mendorong harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperdagangkan di atas USD 90 per barel setelah ditutup 1,1% lebih tinggi pada Rabu, 10 April 2024, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD 86 per barel.

Ketegangan geopolitik dan pengurangan pasokan OPEC+ telah mengerek harga minyak dunia naik hampir 18% sejak awal tahun 2024.

Kenaikan harga minyak berisiko menekan APBN 2024 terutama dari sisi belanja dan defisit.

Kenaikan harga minyak global dapat menyebabkan kenaikan harga bbm bersubsidi sehingga meningkatkan beban subsidi.

Lebih jauh, tim riset bank Mandiri melihat bahwa fundamental pasar minyak mendukung peningkatan harga minyak, yang mana supply shortage ke depan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:

Pertama, serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia.

Kedua, keputusan OPEC+ pada April 2024 untuk tetap menahan pemotongan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga akhir tahun 2024.

Ketiga, ditentukan oleh potensi penguatan ekonomi dan permintaan minyak dari Tiongkok dan Amerika Serikat yang ditunjukan oleh data ekonomi terkininya.

Keempat, ditentukan oleh peningkatan permintaan musiman pasca berakhirnya musim dingin di Tiongkok dan Amerika Serikat.

Tercatat data PMI Manufaktur Tiongkok berada pada zona ekspansi (50,8) pada Maret 2024 setelah konsisten berada pada zona kontraksi selama 5 bulan terakhir.

Sementara itu, tingkat inflasi Amerika Serikat pada bulan yang sama meningkat 3,5% year-on-year (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,2% yoy.