Konsumsi Protein Makin Meningkat, TRGU Siap Genjot Bisnis Bahan Pakan Ternak

Foto : jajaran Direksi TRGU (ist)

Pasardana.id - PT Cerestar Indonesia Tbk (IDX: TRGU), produsen tepung olahan gandum, siap menggenjot bisnis bahan pakan ternak untuk menangkap peluang dari membesarnya pasar, seiring berlanjutnya peningkatan konsumsi protein per kapita Indonesia.

Pada tahun 2021, konsumsi protein rumah tangga per kapita Indonesia untuk kelompok daging telah mencapai 4,38 gram atau meningkat 8,15% dibanding tahun sebelumnya.

Bisnis bahan pakan ternak dari TRGU sendiri, terus menunjukkan pertumbuhan, di mana pada Semester 1 2023 berkontribusi sebesar 30% ke total pendapatan.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan kontribusi terhadap pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 11%.

Perseroan memulai bisnis bahan pakan ternak dari terigunya dengan merek Starfish dan Manta.

TRGU memulainya dengan kapasitas produksi bahan pakan ternak sebesar 51.000 ton per tahun.

Sampai saat ini, TRGU telah merambah ke produk bahan pakan ternak lain, seperti; DDGS (Distillers Dried Grains with Soluble) dan Soybean Meal (SBM).

“Kita akan berusaha untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari turunnya harga gandum dunia serta peningkatan konsumsi protein per kapita ini untuk mendongkrak kinerja Perseroan. Dengan melakukan diversifikasi asal impor, kita bisa mendapatkan harga beli yang paling rendah. Adapun, peningkatan konsumsi protein per kapita kita yakini akan mempercepat pertumbuhan industri peternakan sehingga mendorong peningkatan permintaan bahan pakan ternak yang kita produksi,” kata Direktur Utama Cerestar Indonesia, Indra Irawan dalam keterangan pers, Jumat (27/10).

Untuk diketahui, harga gandum di pasar internasional telah menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan terkhir, karena melimpahnya pasokan dari Rusia dan kurangnya permintaan terhadap gandum Amerika Serikat.

Hasil panen yang baik di tahun ini telah membuat pasokan untuk ekspor gandum Rusia sangat besar.

Oleh karenanya, Rusia diperkirakan akan mendominasi pasar dunia hingga tahun 2024.

Tren penurunan harga gandum dunia ini akan mengurangi biaya bahan baku, sehingga TRGU dapat memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam menentukan strategi penetapan harga.

Di sisi lain, TRGU melakukan diversifikasi untuk sourcing gandumnya dari beberapa negara, seperti; Australia, Brazil, Argentina, Amerika Serikat dan lainnya, sehingga Perseroan mampu menjaga stok persediannya dengan baik.