Digitalisasi Jadi Kunci Sukses Tingkatkan Produksi di Blok Rokan

Foto : istimewa

Pasardana.id - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil meningkatkan produksi migas, dari rata-rata 158 ribu bph sebelum alih kelola, menjadi 161 ribu bph.

Genap satu tahun pasca mengambil alih dari PT Chevron Pacific Indonesia, Pertamina berhasil mempertahankan tingkat produksi di Blok Rokan tidak anjlok.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Jaffee Arizon Suardin membeberkan, kunci sukses dalam meningkatkan produksi di Blok Rokan, salah satunya yakni pada digitalisasi.

Adapun dalam melakukan kegiatan pengeboran sumur, perusahaan mempunyai War Room.

War Room sendiri merupakan fasilitas pusat kendali operasional kegiatan-kegiatan utama dalam rangka mendukung pencapaian target program pengeboran.

"Kami bangun itu real time di PHR, untuk bisa melihat dinamika di lapangan, kami ada War Room, setiap hari kami meeting, tiap hari keputusan apa yang harus dibuat, data transparan dan real time itu gak mudah. Ini sangat memudahkan oleh PHR," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, bahwa apa yang dilakukan oleh PHR di luar ekspektasi.

"Saya kira ini melebihi ekspektasi saya, karena sebelum dikelola PHR mengalami penurunan signifikan, ternyata saat ini justru mengalami peningkatan luar biasa, ini jauh dari ekspektasi saya dan ini bagus sekali," kata dia.

Lebih lanjut, Mamit mengatakan, bahwa Blok Rokan saat ini menjadi salah satu tulang punggung produksi lifting migas nasional.

Blok Rokan setidaknya bakal memegang peranan penting dalam target produksi minyak 1 juta barel pada tahun 2030 mendatang.

Ia pun berharap, dengan adanya kegiatan eksplorasi yang semakin massif, ditambah dengan kegiatan pengeboran sumur 400 per tahun, produksi Blok Rokan dapat melonjak kembali.

Oleh sebab itu, sektor migas masih memberikan peranan penting bagi negara.

Menyikapi hal tersebut, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengaku optimis, sampai pada Oktober 2022 nanti, produksi minyak dari Blok Rokan mampu mengalahkan produksi lapangan minyak terbesar di Indonesia, yakni Blok Cepu.

Dalam satu tahun alih kelola lapangan Rokan, Pertamina mencatat produksi dari Blok Rokan ini mengalami lonjakan yang signifikan menjadi 161,8 ribu barel dari yang sebelumnya hanya 158,7 ribu barel per hari (mbopd).

Dengan produksi yang terus naik, Nicke yakin, Blok Rokan bisa menyalip Cepu lebih cepat.

"Oktober, Rokan bakal ngalahin Cepu. Jadi, saat ini, kita harus menjaga aset migas yang sudah tua ini supaya bisa meningkat produksinya," terang Nicke dalam acara Satu Tahun Alih Kelola WK Rokan, Senin (8/8/2022) lalu.

Seperti diketahui, Blok Rokan saat ini dikelola oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR). Dalam satu tahun alih kelola, PHR berhasil melakukan 370 pengeboran atau lebih dari tiga kali lipat dari sebelumnya, yaitu 105 pengeboran sumur dengan eksekusi 15.000 kegiatan Work Over (WO) dan Well Intervention Well Services (WIWS) yang menyerap 60% Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk menggerakkan perekonomian nasional.

Masifnya pengeboran tersebut, otomatis meningkatkan jumlah rig pengeboran aktif menjadi lebih dua kali lipat dari yang awalnya 9 menjadi 21 rig dan akan terus meningkat menjadi 27 rig hingga triwulan akhir 2022.

Demikian juga dengan penggunaan rig WOWS. Di awal alih kelola memanfaatkan 25 rig WOWS, saat ini menjadi 32 rig WOWS dan akan terus meningkat hingga 52 rig WOWS di triwulan 4 pada tahun ini.