Sri Mulyani : Pertumbuhan Ekonomi 2023 Harus Diwaspadai

Foto : istimewa

Pasardana.id - International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 3,2 persen.

Sementara pada tahun depan (2023), diproyeksikan bakal makin melemah.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pesan yang muncul dari pertemuan tahunan IMF-World Bank, G20 Finance dan Central Bank pada minggu lalu itu mengkonfirmasi situasi ekonomi dunia akan terus tertekan hingga 2023.

"Artinya, ada koreksi pertumbuhan ekonomi yag terjadi di semua negara," ungkap Sri Mulyani, dilansir dari keterangan tertulisnya, Senin (24/10).

Bendahara Negara juga memjelaskan, proyeksi pertumbuhan dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok semuanya menunjukkan tren pelemahan tahun ini dan di 2023.

Namun, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih resilience (tangguh -Red).

Sementara untuk 2022, kata Sri Mulyani, Indonesia diproyeksikan oleh berbagai lembaga dunia masih cukup baik, yaitu tetap di 5,3 persen, meski tahun depan mengalami sedikit koreksi ke bawah, yaitu sebesar lima persen.

"Namun kita tidak boleh tidak waspada, karena memang guncangan ekonomi ini sangat-sangat kencang dan sangat-sangat besar, yang harus terus kita kelola dan kita waspadai secara baik," tegasnya.

Selain itu, kinerja sektor eksternal Indonesia juga masih terpantau cukup positif, baik dari sisi surplus neraca perdagangan, maupun pertumbuhan ekspor impor yang relatif bagus.

Demikian juga dari sisi suplai, yaitu dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang selama 13 bulan berturut-turut terus berada dalam zona ekspansif.

Dilihat dari konsumsi listrik di sektor bisnis dan industri juga mengalami pertumbuhan yang positif.

"Ini semuanya menggambarkan bahwa kuartal ketiga ini PDB kita masih sangat kuat, meskipun kemarin kita melakukan kenaikan harga BBM, namun pengaruhnya terhadap pertumbuhan mungkin masih relatif terjaga," ungkapnya.

Meski demikian, kata Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi di 2023 tetap harus diwaspadai.

Gelombang pelemahan ekonomi dunia, ketidakpastian global, serta kecenderungan suku bunga yang naik akan turut memengaruhi berbagai indikator dan faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Jadi kita juga harus sangat hati-hati meskipun saat ini momentum pertumbuhan ekonomi kita masih sangat sehat dan kuat," tandasnya.