Uji Coba, 209 Saham Masuk Pemantauan Khusus

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 19 Juli akan menjaring efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus dengan enam kriteria.

Rencana itu merupakan tahap awal dari pembentukan papan pemantauan khusus.

Menurut Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, dalam pendidikan wartawan pasar modal secara daring, Kamis (01/7/2021) bahwa rencana itu sebagai bagian dari perlindungan investor ritel.

“Perlindungan itu dengan meningkatkan tranparansi atas kondisi fundamental emiten serta menjaga perdagangan efek dengan karakteristik khusus ini dapat tetap teratur wajar dan efisien,” papar dia.

Ia menambahkan, kriteria itu sudah tertuang dalam Peraturan II-S yang sudah mendapat persetujuan OJK dan akan mulai diterapkan pada tanggal 19 Juli 2021.

Adapun kriteria yang dimaksud, yakni; jika emiten mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat atau disclaimer akan dimasukan ke papan pemantauan khusus.

Sedangkan, emiten yang tidak mencatatkan pendapatan pada laporan keuangan terakhir, juga akan masuk papan tersebut.

Selain itu, untuk perusahaan Minerba yang belum tahapan penjualan, akhir tahun buku ke-4 belum memiliki pendapatan.

Selain itu, memiliki anak perusahaan yang kontribusi pendapatannya material bagi Perusahaan Tercatat dan anak perusahaan tersebut dalam kondisi dimohonkan PKPU atau dimohonkan pailit;

Berikutnya, emiten tersandung PKPU dan permohonan pailit;

Terakhir, kondisi lain yang ditetapkan oleh Bursa setelah memperoleh persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan

Ia melanjutkan, emiten dengan enam kriteria itu tadi saat ini langsung dikenakan suspend, tapi sejak tanggal 19 Juli 2021 tetap dapat diperdagangakan dengan penambahan notasi khusus ‘X”.

“Tentunya dengan perlakukan khususnya, misalnya batasan penolakan penawaran atas 10 persen sedangkan bawah masih mengacu pada batasan pandemi Covid-19,” kata dia.

Sedangkan pada tahap kedua, lanjut dia, bursa akan membentuk papan pemantau khusus yang diharapkan rampung dalam tahun depan. Pada papan baru ini metode perdagangan menggunakan periodic call auction atau sistem lelang berkala untuk efek dalam Pemantauan Khusus.

Pada tahap ini, terdapat 11 kriteria efek dalam pemantauan khusus.

Pertama, harga rata-rata saham selama 6 (enam) bulan terakhir di Pasar Reguler kurang dari Rp51.

Kedua, Laporan Keuangan Auditan terakhir mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer);

Ketiga, tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan pada laporan keuangan terakhir dibandingkan dengan laporan keuangan sebelumnya.

Ke-empat, bagi emiten yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan mineral dan batu bara yang telah melaksanakan tahapan operasi produksi namun belum sampai tahapan penjualan atau yang belum memulai tahapan operasi produksi; atau merupakan induk perusahaan yang memiliki Perusahaan Terkendali yang bergerak di bidang mineral dan batu bara yang telah melaksanakan tahapan operasi produksi namun belum sampai tahapan penjualan atau yang belum memulai tahapan operasi produksi, pada akhir tahun buku ke-4 sejak tercatat di Bursa, belum memperoleh pendapatan dari kegiatan usaha utama;

Kelima, memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir;

Keenam, tidak memenuhi minimal saham beredar di public.

Ketujuh, memiliki likuiditas rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10 ribu saham selama 6 bulan terakhir di Pasar Reguler;

Kedelapan; dalam kondisi dimohonkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dimohonkan pailit;

Kesembilan, memiliki anak perusahaan yang kontribusi pendapatannya material bagi Perusahaan Tercatat dan anak perusahaan tersebut dalam kondisi dimohonkan PKPU atau dimohonkan pailit;

Kesepuluh, dikenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari 1 Hari Bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan;

Kesebelas, kondisi lain yang ditetapkan oleh Bursa setelah persetujuan atau perintah OJK.

Adapun Bursa telah melakukan uji coba dengan data kondisi emiten per 31 Maret 2021, dan hasilnya terdapat 209 emiten yang masuk dalam papan terbaru itu.