Terima Dana PEN Rp5 Triliun, BBTN Siap Salurkan Rp15 Triliun

foto : istimewa

Pasardana.id - PT Bank Tabungan Negara (BBTN) telah menerima dana pemerintah terkait Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp5 Triliun.

Dana tersebut segera disalurkan dalam bentuk kredit dengan total nilai Rp15 triliun.

Direktur Utama BBTN, Pahala Nugraha Mansury mengatakan, dana negara tersebut diterima pada medio Juni 2020 dan diperkirakan seluruh dana negara yang telah ditempatkan pemerintah tersebut akan terserap habis pada akhir Juli 2020.

“Kami meyakini perseroan bisa menyalurkan total kredit sebesar Rp15 triliun dari dana negara tersebut sebelum akhir September 2020,” kata Pahala dalam seminar dalam jaringan, Rabu (29/7/2020).

Ia menambahkan, Kredit yang dialirkan Bank BTN memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Sebab, kredit tersebut akan menjadi tempat tinggal yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Tidak hanya itu, kredit yang disalurkan ke sektor perumahan pun akan memberikan multiplier effect terhadap sekitar 177 subsektor industri lainnya.

Pahala melanjutkan, hingga kini, sektor perumahan di Tanah Air baru memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 2,77%.

Posisi tersebut jauh di bawah kontribusi properti di negara kawasan ASEAN lainnya yang berkisar 8% - 23%.

“Sehingga kami berkomitmen akan terus mendukung pengembangan sektor perumahan. Apalagi di masa pandemi ini, rumah menjadi tempat berlindung paling aman bagi masyarakat Indonesia,” kata Pahala. 

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Suahasil Nazara mengatakan, program PEN merupakan bagian dari kebijakan luar biasa yang ditempuh pemerintah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19.

Terutama, lanjutnya, dampak terhadap ekonomi yang mengalami penurunan tajam akibat virus tersebut. 

PEN, tambah Suahasil, juga digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut.

“Untuk itu, sektor perumahan perlu terus melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect ke-170 industri lainnya. Kami harapkan, dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” jelas Suahasil.

Sedangkan, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Eko D. Heripoerwanto menjelaskan, pihaknya telah menggelontorkan berbagai skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bersubsidi.

Di antaranya, yakni; Subsidi Selisih Bunga (SSB), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

Skema tersebut diberikan untuk mendongkrak industri perumahan subsidi di Tanah Air. 

“Kami meyakini langkah strategis tersebut akan mempercepat pemulihan sektor perumahan yang juga akan berpengaruh pada ekonomi nasional,” kata Eko. 

Dalam kesempatan yang sama, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) menyampaikan, akan mendukung penyediaan likuiditas bagi pembiayaan kepemilikan rumah.

“Sepanjang Semester I tahun 2020, SMF telah berhasil menyalurkan pinjaman kepada penyalur KPR sebesar Rp4,2 triliun,” jelas Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo.  

Lebih lanjut, Ananta juga menuturkan, bahwa SMF sebagai BUMN di bawah Kementerian Keuangan yang mengemban tugas sebagai SMV yang membangun dan mengembangkan Pasar Pembiayaan Sekunder Perumahan tengah memperkuat perannya.

Sebagai SMV, SMF aktif dalam merealisasikan Program Penurunan Beban Fiskal. Program ini direalisasikan melalui pemberian dukungan kepada Pemerintah dalam program KPR FLPP.

SMF berperan dalam mengurangi beban fiskal Pemerintah dengan membiayai porsi 25% pendanaan KPR FLPP, sehingga Pemerintah hanya menyediakan 75% dari total pendanaan FLPP dari semula yang sebesar 90%.