Di Masa Pandemi, Obligasi Dinilai Jadi Pilihan Menarik Investor

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Krisis finansial yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 diprediksi telah melewati puncaknya. Beberapa indikator memperlihatkan pasar finansial Indonesia mulai kembali rebound.

Pada hari ini, Rabu (6/5) data kesembuhan pada pasien Covid-19 terpantau semakin meningkat dari total keseluruhan sebanyak 12.071 kasus, terdapat sebanyak 2.197 orang dinyatakan sembuh atau telah jauh meningkat melampaui pasien yang meninggal sejumlah 872 orang dan sementara sejumlah 9.002 orang masih dalam perawatan.

Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif PT Bahana TCW Investment Management, Soni Wibowo mengungkapkan, seiring meningkatnya data kesembuhan dan melihat kondisi pasar finansial yang mulai membaik, meskipun fluktuasi masih belum cukup stabil, investor dapat mengambil kesempatan untuk berinvestasi di surat utang berharga (SBN) maupun reksa dana pendapatan tetap (fixed income).

“Ini momen baik untuk investasi di obligasi, karena yield-nya sangat menarik. Untuk jangka pendek dan menghindari volatilitas yang belum stabil, sebaiknya memilih reksa dana pendapatan tetap (fixed income) yang bisa dicairkan kapan saja," ungkap Soni Wibowo, dalam siaran pers, Selasa (05/5).

Hal tersebut, sambungnya, dilandasi dari tingkat imbal hasil (yield) obligasi negara tenor 10 tahun yang mencapai 8%.

Angka tersebut terbilang angka yang menarik bagi para investor, dibandingkan dengan yield obligasi sejumlah negara lainnya yang rata-rata di bawah yield obligasi Indonesia.

"Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif, meskipun diprediksi turun pada level 2,3-2,4%," bebernya.

Tercatat di pasar spot, Rupiah kembali menguat pada level 15.157 pada akhir April lalu, setelah sempat di titik terendah di 16.741 pada awal April.

Sementara itu, obligasi Indonesia diprediksi menguat seiring dengan turunnya yield (imbal hasil) SUN selama pekan lalu.

Terkait produk perseroan, salah satu produk reksa dana pendapatan tetap yang masih memberi return yang positif adalah Bahana Asian Bond Fund IBI yang menorehkan return sebesar 1,43% selama satu bulan atau 7,6% selama satu tahun.

Soni menjelaskan, kinerja Asian Bond Fund IBI (ABF) selalu membeli obligasi di saat market turun, sehingga bisa mengimbangi harga obligasi. Jadi ketika market rebound, ABF umumnya selalu positif.

Adapun pilihan lain reksa dana pendapatan tetap, Bahana TCW menawarkan reksa dana Kehati Lestari, Makara Prima, PTS Generasi Gemilang, Asia Bond Fund IBI, MES Syariah Fund, dan Ganesha Abadi.

Sementara, bagi investor yang ingin memilih reksa dana saham, Soni menyarankan agar para investor mengalokasikan dana investasinya secara bertahap untuk tujuan jangka panjang, karena volatilitas pasar saham yang masih tinggi.

Untuk pilihan reksa dana saham, Bahana TCW menyediakan variasi produk reksa dananya seperti Bahana Trailblazer Fund, Dana Ekuitas Prima, Bahana Dana Prima, Bahana iCon Syariah, Bahana Primavera 99 Kelas S, Bahana Primavera 99 Kelas G.

Sebagai acuan investasi, Soni mengutarakan, agar investor membagi porsi investasinya sebesar 50% di obligasi atau reksa dana pendapatan tetap, 25% pada reksa dana saham, dan 25% di reksa dana pasar uang yang juga berguna sebagai cadangan kas.

Menurutnya, fluktuasi pasar akan kembali stabil bila ada sentimen positif yakni melandainya kurva tingkat penyebaran virus COVID-19 dan vaksin baru ditemukan.