Laba Emiten Diperkirakan Hanya Tumbuh 8%, IHSG di Akhir Tahun Bisa Tembus 7.000

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) memperkirakan pertumbuhan laba bersih perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2019 hanya 8%. Hal itu dikarenakan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Direktur Utama Mandiri Investasi, Alvin Pattisahusiwa mengatakan, pertumbuhan laba bersih emiten tahun ini memang tidak setinggi tahun 2018 yang tercatat sebesar 12%, karena perlambatan ekonomi global. Sehingga permintaan bahan komoditas berkurang.

“Perlambatan ekonomi dunia akan berimbas pada permintaan komoditas. Sementara harga komoditas turun, hanya nikel yang membaik. Padahal kinerja emiten di BEI ditopang oleh emiten-emiten berbasis komoditas, seperti emiten batu bara dan sawit,” kata Alvin di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Ia menambahkan, perlambatan ekonomi global tersebut telah berimbas pada laju pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu dikonfirmasi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II 2019 yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05% atau turun dibanding periode yang sama tahun 2018 yang tercatat sebesar 5,27%.

Selain itu, jelas dia, penurunan pertumbuhan laba dibanding 2018 disebabkan oleh kinerja emiten-emiten sektor konsumer telah mengalami tekanan sepanjang semester I 2019. Hal itu disebabkan kondisi politik dalam negeri.

“Faktor kedua disebabkan kinerja emiten konsumer semester I 2019 tidak sebagus yang diharapkan. Tapi kita harapkan membaik di semester II 2019,” jelas dia.

Dengan kondisi itu, ia memperkirakan Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditutup dengan kisaran level 6.600 hingga 7.000 pada akhir tahun 2019. Adapun valuasi PER IHSG akan berada pada kisaran plus minus 15.

“Jika kita bandingkan dengan penutupan tahun 2018 yang berada pada level 6.194. Maka IHSG masih tumbuh,” kata dia.