ANALIS MARKET (12/8/2019) : Kemungkinan Rupiah Menguat Menuju Kisaran Antara Rp.14.150 - Rp.14.180 per USD
Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, ada potensi indeks di bursa Asia hari ini, Senin (12/8/2019), akan terkoreksi, terindikasi dari indeks futures-nya yang sebagian besar ‘merah’, juga terbawa sentimen koreksi indeks di bursa global yang kompak turun pada akhir perdagangan minggu lalu (09/8) dan harga minyak mentah yang dibuka turun pagi ini.
Sementara mata uang kuat Asia, yen dan HK dolar kompak dibuka menguat terhadap US dolar, yang bisa menjadi sentimen penguatan rupiah hari ini.
“Kemungkinan rupiah menguat menuju kisaran antara Rp.14.150 - Rp.14.180 per USD (kurs tengah Bloomberg),” sebut Lana Soelistianingsih, Kepala Riset/Ekonom SAM dalam riset yang dirilis Senin (12/8/2019).
Lebih lanjut, riset SAM juga menyoroti perihal NPI pada Q2-2019 yang tercatat defisit sebesar US$1,977 miliar.
Defisit tersebut karena CAD tercatat sebesar US$8,443 miliar dan NFM tercatat sebesar US$7,051 miliar.
Kinerja surplus NFM tidak cukup pada Q2-2019 ini tidak cukup menutup CAD. CAD pada Q2-2019 ini mencapai 3,04% dari PDB, lebih besar dibandingkan Q1-2019 yang sebesar 2,6%dari PDB, dan dari Q2-2018 yang sebesar 3,01% dari PDB.
Sesuai siklus, ada potensi pada triwulan selanjutnya CAD bisa meningkat.
Sementara dari factor eksternal, pasar global semakin khawatirkan tensi perang dagang yang semakin tinggi.
‘Retaliation’ terus berlanjut. Goldman Sachs (GS) perkirakan probabilita resesi ekonomi global semakin besar dan kesepakatan dagang belum akan selesai sebelum Pemilihan Presiden November 2020 mendatang.
GS perkirakan tarif tetap akan diberikan pada barang impor China senilai US$300 miliar.

