Harga SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Bergerak Menguat Didorong Penguatan Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak dengan mengalami kenaikan di tengah nilai tukar Rupiah yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika pada perdagangan hari Selasa, tanggal 12 Maret 2019 kemarin.

Dalam riset yang dirilis Rabu (13/3/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, penguatan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin (12/3), masih dipengaruhi oleh faktor perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika setelah pelaku pasar global merespon adanya sentimen positif dari perkembangan isu Brexit, dimana parlemen Inggris menggelar voting untuk menentukan keputusan dari proposal Brexit yang diusulkan Perdana Menteri, Theresa May.

“Hal ini akan meningkatkan sentimen risk-off dari para investor dimana para investor lebih dominan untuk menjual asetnya dan cenderung untuk beralih ke aset yang lebih aman (safe haven asset),” jelas I Made.

Selain itu, lanjut I Made, adanya lelang penjualan obligasi negara juga turut menjadi katalis positif bagi kenaikan harga obligasi pada perdagangan kemarin. Hal ini terlihat dari peningkatan volume dari perdagangan sebelumnya.

Baca juga : Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp20,76 Triliun dari 39 Seri

Adapun pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp18,05 triliun dari tujuh seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada para investor.

Lebih lanjut diungkapkan, perubahan harga Surat Utang Negara diperdagangan kemarin (12/3) mencapai 65 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 24 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 6,3 bps.

Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, semua serinya mengalami perubahan harga yang berkisar antara 23 bps hingga 43 bps yang mengakibatkan adanya penurunan tingkat imbal hasil hingga 6,2 bps.

Adapun perubahan harga tertinggi didapati pada seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 43 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 6,2 bps di level 7,847% dan diikuti oleh perubahan harga seri acuan bertenor 20 tahun dan 15 tahun yang masing-masing naik sebesar 31 bps dan 27 bps sehingga berdampak kepada perubahan imbal hasil masing-masing sebesar 3,2 bps di level 8,332% dan 3,2 bps di level 8,270%.

Adapun perubahan harga terendah didapati pada seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 23 bps yang mengakibatkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5,3 bps di level 7,444%.

Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah penguatan imbal hasil US Treasury.

Kenaikan harga didapati pada semua seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika.

Perubahan harga INDO 24 dan INDO 29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 7,9 bps dan 10,6 bps yang berdampak pada penurunan imbal hasil masing-masing sebesar 1,7 bps di level 3,709% dan 1,3 bps di level 4,171%. Adapun untuk seri INDO44 dan INDO 49 didapati kenaikan harga masing-masing sebesar 24 bps dan 14,2 bps sehingga mengakibatkan turunnya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 1,4 bps di level 5,002% dan 0,9 bps di level 4,909%.