Pembiayaan Infrastruktur Belum Jelas, Saham IPO Anak Usaha BUMN Rontok

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pembiayaan infrastruktur sampai saat ini masih menjadi persoalan sehingga turut menjadi sentiment negatif bagi perusahaan pelat merah dan anak usahanya yang melakukan initial public offering/IPO. Pasalnya, harga saham dua anak usaha BUMN rontok pada saat pencatatan perdana.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan, turunnya harga saham anak usaha BUMN pasa saat pencatatan perdagangan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih dikarenakan belum jelasnya pembiayaan proyek infrastruktur.

"Itu terkait anak usaha BUMN konstruksi yang umumnya mendapatkan kontrak kerja proyek infrastruktur yang terseret sentiment financing proyek," kata Reza di Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Sementara itu, Deputi bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius K Ro menyatakan, sektor infrastruktur saat ini tengah menghadapi tantangan dan valuasinya mengalami penurunan.

"Kebetulan sektornya sama semua di infrastruktur, tapi kita lihat jangka panjang," kata Aloy.

Lebih lanjut, ia meminta investor untuk menunggu lebih lama, guna memastikan bukti rencana kerja anak usaha BUMN yang tertuang dalam prospektus IPO (Initial Public Offering).

"Misalnya GMFI akan mengandeng patner baru, kita lihat realisasinya," kata dia.

Melihat fenomena itu, lanjut dia, Kementerian BUMN tidak akan merubah kebijakan untuk mendorong anak usaha BUMN mengalang dana melalui penawaran saham perdana. Rencananya ada 14 anak BUMN segera mencatatkan saham pada BEI.

"Tahun ini ada dua yakni, WIKA Gedung dan Jasa Armada, sedangkan tahun depan ada 12 anak usaha yang akan IPO," kata dia.

Untuk diketahui, dua anak usaha BUMN yang telah resmi melakukan pencatatan saham perdana tahun ini adalah GMFI dan PPRE. GMFI, saat pembukaan perdagangan, saham naik 2 point atau 2% ke level 408. Akan tetapi, saham anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) itu, pada menit pertama perdagangan mengalami penurunan 28 point atau -7% ke level 372 dengan nilai transaksi Rp4,9 miliar dan volume perdagangan sebanyak 123.543 lot.

Sementara, PT PP Presisi Tbk (PPRE) pada pembukaan perdagangan, emiten ke 29 tahun ini, tepatnya pada pukul 09.02 JATS turun 22 point atau 5,1% ke level 408, dengan nilai transaksi Rp5,2 miliar dan volume perdagangan lot 126.247 lot.