Ditengah Ketidakpastian Pasar, Investor Diminta Bijak Cermati Peluang
Pasardana.id - Yield Obligasi Negara Indonesia dengan tenor 10 tahun lazim digunakan sebagai salah satu tolak ukur Capital Inflow yang terjadi di Indonesia, mengingat porsi kepemilikan Investor Asing pada SUN (Surat Utang Negara) Indonesia masih cukup besar.
Kepada Pasardana.id, di Jakarta, baru-baru ini, Research & Analyst PT Corfina Capital, Putu Wahyu Suryawan menjelaskan, harga Obligasi cenderung berbanding terbalik dengan Yield Obligasi, apabila Yield Obligasi mengalami kenaikan maka harga Obligasi cenderung turun dan Capital Outflow diperkirakan terjadi seiring penurunan harga Obligasi, begitupula sebaliknya, apabila Yield Obligasi mengalami penurunan maka harga Obligasi cenderung akan naik dan Capital Inflow diperkirakan terjadi.
Menurut Putu, Capital Flow yang terjadi di Indonesia sangat erat hubungannya dengan kebijakan Ekonomi Global, terutama kebijakan Ekonomi Amerika, mulai dari Tapering Off pada tahun 2013, kenaikan suku bunga The Fed pada tahun 2015 dan kenaikan suku bunga The Fed untuk kedua kalinya pada akhir tahun 2016.
“Ketiga momentum tersebut mengakibatkan Capital Outflow, sehingga menurunkan harga Obligasi dan menaikkan Yield Obligasi itu sendiri," ujar dia.
Namun seiring berjalannya waktu, lanjut dia, perekonomian Indonesia menjadi semakin kuat, sehingga Capital Outflow mampu ditekan oleh berbagai kebijakan Pemerintah RI.
“Maka saat kenaikan suku bunga The Fed untuk ketiga kalinya sebesar 25 bps menjadi 1% pada 16 Maret 2017, harga Obligasi cederung stabil dan Yield Obligasi mengalami penurunan," terangnya.
Menurut Putu, apabila dilihat dari data, Yield Obligasi Negara Indonesia dengan tenor 10 tahun telah mengalami penurunan sebesar -0.48% sejak awal tahun 2017 hingga 24 Maret 2017, porsi Investor Asing mengalami kenaikan hingga 38.2% dengan nilai sebesar 715.49 Triliun Rupiah.
Selain karena kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, hal tersebut juga dipengaruhi oleh ekspektasi Investor terkait estimasi kenaikan peringkat Sovereign Credit Rating untuk Indonesia oleh Standard & Poor menjadi Investment Grade.
Lebih lanjut diungkapkan, dari Pasar Saham, Capital Inflow terus terjadi bahkan pasca kenaikan suku bunga The Fed. Pada pekan kenaikan suku bunga The Fed terjadi, Investor Asing mencatatkan net buy sebesar 5.4 Triliun Rupiah, dan sejak awal tahun hingga 24 Maret 2017 Investor Asing telah mencatatkan net buy sebesar 7.1 Triliun Rupiah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung terus mengalami kenaikan pasca kenaikan suku bunga The Fed, dimana kenaikan telah terjadi sebesar 2.48% sejak 15 Maret 2017 dan sebesar 5.11% sejak awal tahun 2017, saat ini IHSG bergerak ada range area 5,480 ¬ 5,570.
“Tetapi walaupun Capital Inflow telah terjadi, namun kenaikan IHSG masih belum ditopang secara merata oleh saham saham berkapitalisasi pasar besar dan saham LQ 45 seperti AALI, ICBP, INDF, KLBF, LPPF, TLKM, WIKA, WSKT, BNII, LPKR, MIKA dan PTPP, dimana kinerja fundamental saham saham tersebut tercatat cukup bagus pada tahun 2016, sehingga masih banyak peluang pada IHSG,"papar Putu.
Ia juga mengaku masih percaya bahwa Capital Inflow masih akan terus terjadi hingga S&P memastikan level Investment Grade untuk Indonesia.
“Oleh karena itu, kami akan berusaha untuk memanfaatkan moment tersebut untuk mengalokasikan portofolio dengan metode trading jangka pendek maupun alokasi untuk jangka panjang," terangnya.
Meskipun demikian, lanjut Putu, risiko pembatalan Investment Grade masih tetap akan ada, dan risiko perlambatan ekonomi global serta geopolitik luar negeri masih akan menjadi sentiment negative untuk pasar keuangan Indonesia.
Ia menilai, apabila risiko tersebut (pembatalan Investment Grade - Red) cenderung lebih besar untuk tahun 2017 ini, maka IHSG diperkirakan akan menyentuh level P/E yang cukup rendah pada level 13 X atau setara dengan target bawah IHSG sebesar 4,800.
“Maka dari itu, ditengah kondisi ketidakpastian pasar saat ini, trading jangka pendek dengan selalu memperhitungkan risiko yang ada, merupakan pilihan yang bijak bagi pelaku pasar," tandas Putu.

