Neraca Perdagangan Diproyeksi Tetap Surplus, Tapi Makin Terbatas di Semester II-2026
Oleh: Issa

foto: istimewa
Pasardana.id - Neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan tetap mencatat surplus pada semester II 2026, meski ruang surplus diperkirakan semakin terbatas akibat tingginya impor energi dan pertumbuhan impor yang masih melampaui ekspor.
Berdasarkan Daily Economic Review Office of Chief Economist PT Bank Mandiri per 2 September 2026, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali surplus US$0,12 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$0,45 miliar pada Juni dan US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari-Juli 2026 mencapai US$3,70 miliar, atau turun US$20,07 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyusutan terutama dipicu kenaikan impor nonmigas yang mencapai 16,78% secara tahunan menjadi US$19,76 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 5,21%.
Di sisi ekspor, kinerja Juli 2026 masih menunjukkan penguatan.
Ekspor tumbuh 6,05% yoy menjadi US$26,22 miliar, sementara ekspor nonmigas naik 6,84% menjadi US$25,43 miliar.
Produk nikel dan barang turunannya menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan ekspor kumulatif 49,84% yoy.
Namun, ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap China terus meningkat.
Pangsa China dalam ekspor nonmigas mencapai 25,39%, sementara dari sisi impor mencapai rekor 42,38%.
Kondisi ini membuat Indonesia semakin sensitif terhadap potensi ketegangan dagang AS-China, terutama jika pembatasan meluas ke bahan baterai dan rantai pasok logam hilir.
Ke depan, surplus neraca perdagangan diperkirakan masih positif, tetapi lebih terbatas pada paruh kedua 2026.
Tekanan utama berasal dari impor energi dan tingginya kebutuhan impor nonmigas.
Penyempitan surplus juga berpotensi mengurangi dukungan devisa terhadap stabilitas rupiah, sehingga pergerakan mata uang akan semakin bergantung pada arus modal portofolio dan investasi asing.




