Investasi Keamanan Digital Hampir Rp10 Miliar, Mirae Asset Perketat Perlindungan Nasabah
Oleh: Harry

Foto: dok. Mirae Asset Sekuritas
Pasardana.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menginvestasikan hampir Rp10 miliar sepanjang 2026 untuk memperkuat keamanan digital melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penyempurnaan proses pengamanan, dan pengembangan teknologi.
Langkah ini dilakukan di tengah maraknya penipuan digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat 702.342 laporan penipuan transaksi keuangan sejak 22 November 2024 hingga 30 September 2026.
Dalam periode tersebut, sebanyak 702.833 rekening diblokir dengan total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp811,1 miliar.
Head of IT Security & GRC Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rusdi Budiman, mengatakan penguatan keamanan digital perusahaan mengacu pada pendekatan _People, Process, _dan Platform (3P), yang mengintegrasikan kesiapan karyawan, mekanisme pengamanan, dan teknologi.
“Penguatan keamanan harus menjawab kebutuhan nyata, yakni menjaga keandalan layanan dan melindungi informasi yang dipercayakan kepada perusahaan,” ujar Rusdi dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10).
Investasi tersebut mencakup perlindungan jaringan dan aplikasi, pengelolaan perangkat, pemantauan keamanan, serta edukasi karyawan untuk menghadapi ancaman digital.
Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan menggelar pelatihan untuk mengenali phishing, mengidentifikasi komunikasi mencurigakan, dan menjalankan prosedur pelaporan.
Program ini dilengkapi simulasi serta evaluasi berkala untuk mengukur kesiapan karyawan.
Pada aspek proses, Mirae Asset memperkuat pengelolaan akses internal, pembaruan keamanan perangkat, serta pemantauan dan respons terhadap ancaman.
Perusahaan juga mengembangkan Security Operations Center (SOC) untuk memusatkan pemantauan aktivitas keamanan, analisis peringatan, dan koordinasi penanganan insiden.
Sementara itu, penguatan teknologi meliputi perlindungan jaringan, aplikasi, perangkat kerja, dan server.
Perusahaan turut menerapkan autentikasi berlapis serta pemisahan jaringan guna memperketat akses ke sumber daya internal dan membatasi potensi penyebaran gangguan.
Rusdi menegaskan, pemantauan keamanan harus didukung mekanisme penanganan yang jelas agar setiap temuan dapat dievaluasi dan ditindaklanjuti sesuai tingkat risikonya.
Selain memperkuat sistem internal, Mirae Asset mengimbau masyarakat untuk menjaga keamanan akun dengan tidak membagikan kata sandi maupun kode autentikasi, menghindari tautan yang tidak terverifikasi, serta memastikan komunikasi yang mengatasnamakan institusi keuangan berasal dari kanal resmi.
Melalui investasi dan penguatan keamanan secara bertahap, perusahaan berupaya menjaga keandalan operasional, meningkatkan kualitas layanan, serta melindungi informasi nasabah di tengah perkembangan ancaman digital.



