Kripto|cryptocurrency|investasi

Perkembangan Aset Kripto sebagai Alternatif Investasi

Oleh: Sultan

16 September 2026, 17:04
Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia

Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia

APII

Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII) didirikan di Jakarta pada 29 Oktober 2018 berdasarkan Akta No. 92 oleh Notaris Leolin Jayayanti, SH., M.Kn., sebagai wadah bagi Penasihat Investasi berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). APII berperan membantu OJK dalam meningkatkan kinerja pasar modal, khususnya dari sisi jumlah investor, sekaligus memfasilitasi investor dengan informasi yang valid, independen, dan profesional. Selain itu, APII aktif mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai kegiatan edukasi seperti workshop dan kelas investasi yang bekerja sama dengan pelaku pasar modal dan lintas industri, serta menjadi mitra OJK dalam menegakkan standar perilaku dan kode etik anggotanya.

Perkembangan Aset Kripto sebagai Alternatif Investasi

foto: ilustrasi

Pengenalan dan Evolusi Mata Uang Kripto Menjadi Alternatif Aset Investasi

Di tengah pesatnya era revolusi digital dan inovasi keuangan global, hadirnya mata uang kripto menjadi salah satu bentuk transformasi yang paling menonjol. Perkembangan ini berawal dari kemunculan Bitcoin pada tahun 2008, yang diperkenalkan oleh sosok anonim Satoshi Nakamoto lewat white paper bertajuk Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System. Resmi diluncurkan pada tahun 2009, Bitcoin awalnya dirancang murni sebagai sistem uang elektronik peer-to-peer untuk memindahkan nilai secara langsung tanpa perantara, dengan teknologi blockchain yang mencegah masalah double-spending. Namun, seiring berjalannya waktu, peran kripto mengalami evolusi besar dari yang murni alat pembayaran digital menjadi salah satu kelas aset investasi karena menimbang nilainya yang terlalu volatil untuk sebuah mata uang. Perkembangan ini kian masif setelah peluncuran Ethereum pada Juli 2015 yang mengenalkan teknologi smart contract. Inovasi ini membuat sebuah program dapat berjalan secara otomatis tanpa pihak ketiga. Dari inovasi ini, muncul berbagai ekosistem yang lebih luas seperti keuangan terdesentralisasi (DeFi) hingga berbagai aplikasi digital. Sejak saat itu juga, nilai dan daya tarik kripto semakin meluas sebagai instrumen investasi. Perkembangan tersebut juga memicu lahirnya berbagai jenis aset kripto. Secara teknis, kripto terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu koin dan token. Koin merupakan aset kripto asli dari suatu blockchain, seperti Bitcoin dan Ethereum. Sementara itu, token adalah aset yang diterbitkan di atas infrastruktur blockchain yang sudah ada. Di luar perbedaan kategori tersebut, kripto dikelompokkan ke dalam berbagai kategori fungsi penggunaan. Kategori ini mencakup stablecoin seperti USDT dan USDC yang dipatok pada mata uang USD untuk menekan volatilitas dan sebagai koin dasar untuk transaksi kripto. Selain itu, terdapat token tata kelola seperti Uniswap yang memberikan hak suara dalam suatu protokol, utility token untuk akses layanan ekosistem, hingga memecoin seperti Dogecoin yang harganya melejit berkat tren internet dan komunitas. Dengan mengenali kategori ini, dapat menjadi landasan penting dalam memahami dan mengevaluasi aset kripto.

tabel1.png

Membaca Peluang dan Risiko dalam Siklus 4 Tahunan Kripto

Dalam pasar kripto, terdapat fenomena terkenal yaitu siklus 4 tahunan kripto, dimana pola historis pergerakan pasar kripto, terutama Bitcoin yang menunjukkan bahwa fase bullish dan bearish cenderung berulang dalam rentang sekitar empat tahun. Pola ini sangat berkaitan dengan Bitcoin Halving, yaitu peristiwa empat tahunan ketika pengembalian atau reward penambang Bitcoin dipotong sebesar 50%, sehingga laju Bitcoin baru yang masuk ke pasar berkurang. Dengan pengaruh besar yang dimiliki oleh siklus Bitcoin, maka sering ikut tercermin pada koin lainnya (altcoin) dan total dari kapitalisasi pasar kripto.

Secara sederhana, siklus historisnya dapat digambarkan seperti Bitcoin Halving, fase akumulasi, bull market, titik puncak pasar, bear market, titik rendah pasar, akumulasi, dan kemudian kembali Halving. Fenomena atau siklus tersebut dapat digunakan oleh investor untuk membaca kondisi pasar kripto, bukan sebagai kalender pasti untuk bertransaksi jual ataupun beli. Meskipun ketika berada di fase bull market, potensi return akan besar, tetapi volatilitas dan risiko drawdown juga meningkat. Oleh karena itu, siklus 4 tahunan ini dapat digunakan untuk menentukan seberapa agresif dan defensif posisi instrumen kripto di dalam portofolio investasi.

Tren Adopsi Investasi Aset Kripto Global dan Domestik

Pada akhir tahun 2025, pertumbuhan adopsi kripto global diperkirakan mencapai 560-740 juta di seluruh dunia atau sekitar 7%-9% dari populasi global. Kepemilikan ini didominasi oleh masyarakat muda dengan kelompok usia 25-34 tahun, yaitu sekitar 34% dari keseluruhan pemilik, dengan adopsi terkonsentrasi di kalangan usia di bawah 45 tahun dan 61% pemilik kripto didominasi oleh laki-laki. Secara kapitalisasi pasar, pasar kripto menyentuh USD 2.65 triliun per September 2026.

tabel2.PNG

Kenaikan dalam mengadopsi kripto jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan kenaikan adopsi internet dan telepon seluler. Berdasarkan laporan dari BlackRock, butuh selama 21 tahun bagi telepon seluler untuk mencapai 300 juta pengguna, 15 tahun untuk internet, sedangkan kripto hanya membutuhkan waktu selama 12 tahun.

Di tingkat domestik, pesatnya pertumbuhan adopsi kripto global turut tecermin pada pasar Indonesia. Pada Juli 2026, nilai transaksi kripto domestik menembus IDR 20.52 triliun dengan jumlah akun investor mencapai 22.93 juta. Pertumbuhan ini mencatat penambahan sekitar 2.74 juta pengguna baru sejak Desember 2025. Sejalan dengan tren tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga pertengahan 2026 telah menerbitkan izin operasional untuk 33 entitas resmi dalam ekosistem perdagangan aset kripto nasional, yang terdiri dari 2 bursa kripto, 2 lembaga kustodian, 2 lembaga kliring, serta 27 pedagang aset keuangan digital.

Berdasarkan data Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, tingkat awareness aset kripto di Indonesia mencapai 93%. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa aktivitas transaksi relatif tinggi terjadi pada kalangan lebih dari 60% investor kripto di Indonesia yang berasal dari generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial muda. Investor kalangan muda ini cenderung mengandalkan informasi dari media sosial, komunitas, dan influencer dalam mengambil keputusan.

Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Aset Kripto

Perkembangan aset digital berupa kripto yang terus bertumbuh, tidak luput dari sifatnya yang memiliki kelebihan dan kekurangan selama investor berinvestasi di instrumen kripto. Saat ini, terdapat ribuan jenis koin atau kripto yang telah beredar di masyarakat dunia, salah satunya Bitcoin sebagai koin pertama yang beredar. Berinvestasi di kripto memiliki kelebihan utama berupa sifatnya yang terdesentralisasi dimana sistem pengelolaan dan kendali jaringan tidak berada pada suatu otoritas pusat, melainkan terdistribusi kepada seluruh pengguna. Selain itu, terhindar dari inflasi yang memiliki dampak pada mata uang negara yang menurun nilainya dari waktu ke waktu. Namun, hampir disetiap kripto diluncurkan dengan jumlah yang terbatas dan kenaikan serta penurunan dapat terjadi dalam rentang waktu yang singkat ditengah supply dan demand dari koin kripto itu sendiri. Oleh karena itu, keuntungan yang dihasilkan relatif dalam waktu singkat atau jangka pendek diiringi paparan resiko yang cukup tinggi, sehingga kripto dikenal dengan instrumen yang high risk-high return.

Ditengah keuntungan dalam berinvestasi kripto, kekurangan yang terjadi dapat berasal dari volatilitas harga atau ketidakstabilan harga yang sudah menjadi salah satu kelemahan utamanya. Pasar kripto sangatlah fluktuatif dengan waktu perdagangan yang tidak pernah berhenti, alias setiap hari atau 24/7. Ketidakpastian harga dalam instrumen kripto, terjadi kurangnya nilai fundamental dan pembatasan batas atas dan bawah dari otoritas yang mengatur instrumen tersebut sehingga kenaikan dan penurunan harga sewaktu-waktu dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, meskipun kripto dinilai aman, namun masih banyak kasus penipuan yang terjadi, seperti ajakan pembelian suatu jenis kripto di sosial media yang memicu kerugian besar ketika harga tersebut digerakkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk masyarakat untuk lebih selektif dan bijak dalam berinvestasi di kripto dan mengenali risk profile masing-masing individu.

Alfarel Fadhlurrohman.

Departemen Komunikasi dan Relasi.

Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII).

Nathan Jovian Wijaya.

Kontributor.

Muhamad Rizky Rizqita.

Departemen Edukasi, Literasi, dan Inklusi Investasi.

Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII).

Referensi

academy, indodax. (2022, July 27). Pengertain dan Penjelasan Mengenai Bitcoin - INDODAX Academy. Belajar Jual Bitcoin Beli Bitcoin | Indodax Academy. https://indodax.com/academy/apa-itu-bitcoin/

CoinGecko. (2026, March 8). What is tokenomics? A complete guide to crypto token economics. CoinGecko. https://www.coingecko.com/learn/what-is-tokenomics-understanding-crypto-fundamentals

Coinvestasi. (2026, September 8). https://coinvestasi.com/berita/nilai-transaksi-aset-kripto-ri-anjlok-juli-2026

Crypto.com. (2026, January 16). Crypto market sizing 2025. Crypto.Com. https://crypto.com/en/research/crypto-market-sizing-report-2025

Dalimunthe, H. (2022, May 31). Astronacci. https://astronacci.com/blog/read/ketahui-kelebihan-dan-kekurangan-trading-di-market-kripto

Dogecoin. (2021, October 22). The history of dogecoin. Dogecoin. https://dogecoin.com/dogepedia/articles/history-of-dogecoin/

Ethereum. (2026, September 10). https://ethereum.org/what-is-ethereum/

Ethereum. (2026, September 10). https://ethereum.org/stablecoins/

Indodax. https://help.indodax.com/hc/id/articles/33741757677721-Apa-itu-Halving-pada-Bitcoin

Nakamoto, S. (2008). Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System. https://bitcoin.org/bitcoin

Priyo. (2022, December 28). Mengenal Apa Itu Token dan Perbedaanya dengan Coin. Belajar Jual Bitcoin Beli Bitcoin | Indodax Academy. https://indodax.com/academy/apa-itu-token-di-aset-kripto/

Riadi, Y. (2026, September 8). Selular.id. Selular.ID. https://selular.id/2026/09/jumlah-investor-kripto-ri-tembus-229-juta-meski-nilai-transaksi-turun/

Solcard. (2026, July 6). https://www.solcard.cc/blog/how-many-people-own-crypto

Viewpoints, F. (2026, March 2). Bitcoin 4-year cycles explained. Fidelity. https://www.fidelity.com/learning-center/trading-investing/four-year-bitcoin-and-crypto-cycles

Sumber: APII - Perkembangan Family Office dan Kesempatan Emas Pusat Finansial Indonesia

Disclaimer: Pendapat dan analisis dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis tamu dan tidak mewakili pandangan Pasardana.id. Pasardana.id tidak bertanggung jawab atas keputusan apa pun yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.

Berita Terkini

See More