Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (05/10/2026): IHSG Masih Downtrend

Oleh: Ria

05 Oktober 2026, 08:59
ANALIS MARKET (05/10/2026): IHSG Masih Downtrend

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada hari Jumat (26/10/02). Indeks S&P 500 naik 0,73%, Nasdaq Composite menguat 1,19% dan ditutup pada rekor 27.190, sementara Dow Jones Industrial Average naik 250 poin.

Kenaikan dipimpin oleh saham-saham teknologi dan yang terkait dengan AI, dengan Nvidia naik 1,3%, Broadcom 3,3%, AMD 2,9%, Alphabet 1,6%, Amazon 1,3%, dan Oracle 3,1%.

Tesla melonjak 4,6% setelah melaporkan penjualan kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi. Secara mingguan, S&P 500 naik 0,2%, Nasdaq menguat 1,3%, sementara Dow turun 319 poin.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar membaik setelah data nonfarm payrolls AS hanya naik 29.000 pada bulan September—jauh di bawah perkiraan 90.000—sementara data dua bulan sebelumnya direvisi turun. Hal ini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, sehingga mendukung saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. Investor juga merespons positif penurunan harga minyak, yang membantu meredakan tekanan inflasi. Fokus kini beralih ke arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan bulan Desember, di mana pasar masih melihat adanya kemungkinan cukup tinggi untuk kenaikan suku bunga.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap tinggi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. AS dilaporkan telah mengerahkan gugus tugas kapal induk ketiga ke wilayah tersebut, bersama dengan pasukan amfibi yang membawa sekitar 2.000 personel Marinir. Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu bulan November. Sementara itu, G7 sepakat untuk melepas hingga 100 juta barel cadangan minyak mentah dan solar selama empat bulan guna meredakan tekanan pasokan dan harga energi. Ketidakpastian seputar negosiasi AS-Iran tetap menjadi risiko utama bagi pasar energi.

REGULASI & KEBIJAKAN: OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi minyak mentah yang ditetapkan untuk bulan November pada level yang sama dengan bulan September. Arab Saudi memiliki target produksi sebesar 10,478 juta barel per hari (bpd), Rusia 9,949 juta bpd, Irak 4,431 juta bpd, Kuwait 2,676 juta bpd, Kazakhstan 1,628 juta bpd, Aljazair 1,007 juta bpd, dan Oman 841 ribu bpd. OPEC+ akan terus mengadakan pertemuan bulanan dan dijadwalkan untuk bertemu kembali pada tanggal 1 November. Komite Pemantau Tingkat Menteri Gabungan (JMMC) juga menyatakan bahwa kepatuhan produksi secara keseluruhan pada bulan Juli dan Agustus telah tercapai.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 2 tahun naik 4 basis poin (bps) menjadi 4,84%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun kembali turun ke level 5,25% setelah sebelumnya sempat turun 8 bps. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun 1 bp menjadi 1,93%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun turun ke bawah level 3,1%. Indeks Dolar AS (DXY) melemah ke bawah level 102 setelah mencatatkan kenaikan selama empat sesi berturut-turut. Yen Jepang menguat tipis ke level di bawah JPY158 per Dolar, sementara inflasi inti Tokyo naik menjadi 2,7% pada bulan September, melampaui target 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan.

PASAR EROPA & ASIA:

-Saham-saham Eropa sebagian besar bergerak naik. Indeks FTSE 100 Inggris bangkit kembali setelah mengalami penurunan selama empat sesi, meskipun secara mingguan indeks ini masih mencatatkan penurunan sekitar 2%. Indeks DAX 40 Jerman naik sekitar 1,2% menjadi 25.231, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terbaik di kawasan tersebut. Indeks CAC 40 Prancis menguat 0,8% menjadi 7.897, sementara FTSE MIB Italia naik 0,5% menjadi 50.483. Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran mengenai inflasi energi dan mendukung saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.

-Bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,99% menjadi 68.309 akibat aksi ambil untung serta meningkatnya kehati-hatian terhadap risiko suku bunga dan geopolitik. Indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 2,6%, atau 641 poin, menjadi 23.972, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak bulan Juli. Indeks Shanghai Composite naik 0,31% menjadi 3.842,2, sedangkan Shenzhen Component turun 0,11% menjadi 12.887,6. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,46% menjadi 7.004 didorong oleh aksi beli saham-saham teknologi di harga rendah (bargain hunting). Indeks BSE Sensex India turun 0,8% menjadi 71.909,7, STI Singapura melemah 0,58% menjadi 5.635, sementara FKLCI Malaysia naik tipis 0,03% menjadi 1.631.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi. Harga minyak turun 1,90% menjadi US$91,11/barel—didukung oleh risiko geopolitik dan kekhawatiran pasokan—sementara harga emas melemah 0,87% menjadi US$4.141/ons sebagai aset safe haven. Nikel turun 0,05% menjadi US$15.626/ton akibat pasokan yang melimpah, timah melemah 0,59% menjadi US$54.013/ton, dan tembaga naik 0,17% menjadi US$654,90/lb di tengah kekhawatiran mengenai permintaan dari Tiongkok. Harga batu bara turun tipis 0,23% menjadi US$148,95/ton meskipun pasokan global semakin ketat, sementara CPO melemah 0,46% menjadi MYR4.354/ton.

AGENDA HARI INI:

-Amerika Serikat (AS): ISM Services PMI bulan September.

-Jepang (JP): Keyakinan Konsumen bulan September.

INDONESIA: Bank Indonesia (BI) tetap fokus memprioritaskan stabilitas Rupiah di tengah lingkungan suku bunga global yang tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer), tanpa menaikkan BI-Rate. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik modal asing, BI memberikan insentif berupa pengurangan biaya lindung nilai (hedging); kebijakan ini—yang telah diterapkan sejak September 2026—telah memfasilitasi aliran masuk modal sekitar US$7 miliar. Di sisi lain, BI mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan, khususnya di sektor perumahan. Per September 2026, pemanfaatan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk sektor perumahan, real estat, dan konstruksi mencapai Rp118 triliun, atau 1,32% dari batas 1,4%, dan telah digunakan oleh 111 bank. Selain itu, pemerintah menargetkan rasio pajak sebesar 9,26% pada tahun 2027—tingkat tertinggi dalam satu dekade—melalui penguatan administrasi perpajakan, perluasan basis pajak, pemanfaatan data dan teknologi, serta optimalisasi sistem Coretax. Tax buoyancy juga ditargetkan mencapai 1,41, yang berarti setiap 1% pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkatkan penerimaan pajak sebesar 1,41%. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan memperluas pengawasan terhadap ekonomi digital, sektor informal, transaksi e-commerce, wajib pajak grup, transfer pricing, dan wajib pajak orang pribadi terkemuka.

-IHSG ditutup menguat 0,46% di level 6.036,89. Berdasarkan perdagangan hari Jumat (02/10), investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp1,31 triliun, dengan akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp108,73 triliun. Aliran dana asing terutama masuk melalui saham BBCA, EMAS, PTBA, ASII, dan ULTJ, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham GOTO, BBRI, SINI, BMRI, dan DSSA. Nilai tukar Rupiah juga menguat ke level 17.916.

-Secara teknikal, IHSG berhasil rebound namun masih berada dalam tren penurunan (downtrend), dengan indikator RSI (14) naik ke level 30. Jika IHSG berpeluang menguat kembali, indeks dapat menguji level 6.095, kemudian 6.111–6.121. Sebaliknya, jika kembali melemah, IHSG rentan menguji kembali level support di 5.979/5.973, dan penembusan di bawah level tersebut dapat membuka ruang penurunan menuju 5.898.

“Kami menyarankan investor untuk tetap berhati-hati di tengah berlanjutnya tekanan jual,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (05/10).

Berita Terkini

See More