See More

07 Agustus 2026, 23:02

07 Agustus 2026, 19:47

07 Agustus 2026, 18:08

07 Agustus 2026, 17:45

07 Agustus 2026, 17:29

07 Agustus 2026, 17:15
uang primer|uang primer adjusted|uang kartal|likuiditas keuangan|Bank Indonesia|likuiditas perbankan
Oleh: Issa

foto: istimewa
Pasardana.id - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan Uang Primer (M0) Adjusted sebesar 17,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Juni 2026 yang mencapai 13,8 persen (yoy).
Berdasarkan data terbaru Bank Indonesia, nilai Uang Primer (M0) Adjusted pada Juli 2026 mencapai Rp2.254,5 triliun.
Kenaikan ini mencerminkan likuiditas di sistem keuangan yang terus meningkat seiring kebijakan moneter yang diterapkan bank sentral.
Pertumbuhan M0 Adjusted didorong oleh meningkatnya giro bank umum di Bank Indonesia adjusted yang tumbuh 17,1 persen (yoy).
Selain itu, uang kartal yang diedarkan juga mencatat pertumbuhan 15,1 persen (yoy), menunjukkan aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai yang tetap tinggi.
Bank Indonesia menjelaskan, bahwa angka pertumbuhan M0 Adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter adjusted.
Dengan demikian, data tersebut memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan uang primer tanpa terdistorsi oleh kebijakan likuiditas yang diterapkan BI.
Sejak Januari 2025, Bank Indonesia melakukan penyesuaian metode perhitungan Uang Primer (M0) Adjusted.
Penyesuaian ini bertujuan mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas, sehingga perkembangan uang primer dapat dipahami secara lebih komprehensif.
Bank Indonesia menilai pendekatan baru tersebut membantu pelaku pasar, investor, dan masyarakat dalam membaca arah kebijakan moneter serta kondisi likuiditas perbankan secara lebih tepat.
Data lengkap mengenai statistik uang primer dapat diakses melalui laman resmi Bank Indonesia.
Uang Primer (M0) Adjusted merupakan indikator yang menggambarkan perkembangan uang primer setelah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat kebijakan pemberian insentif likuiditas.
Indikator ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas dan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia.