Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (28/8/2026): Momentum Bullish Masih Cukup Kuat

Oleh: Ria

28 Agustus 2026, 08:44
ANALIS MARKET (28/8/2026): Momentum Bullish Masih Cukup Kuat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Kamis (27/8/26), didorong oleh lonjakan saham teknologi setelah kinerja dan prospek Nvidia memperkuat optimisme terhadap tema kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 naik 0,72% ke level 7.730,99, Nasdaq Composite melonjak 1,57% ke 26.541,35, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,20% ke 53.569,44.

Saham Nvidia melonjak 8,7% setelah melaporkan pendapatan kuartalan sebesar US$92,22 miliar—naik 106% secara tahunan (YoY)—serta memberikan panduan pertumbuhan pendapatan tahun fiskal 2028 yang jauh melampaui ekspektasi pasar.

Kenaikan juga terjadi pada saham perangkat lunak; Salesforce melonjak hampir 23% dan CrowdStrike naik lebih dari 20%, menjadikan sektor teknologi sebagai pendorong utama reli Wall Street.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global cenderung positif, khususnya terhadap sektor teknologi dan AI, setelah hasil kinerja Nvidia memperkuat keyakinan bahwa siklus belanja infrastruktur AI masih terus berlanjut. Namun, optimisme ini masih dibayangi oleh risiko makroekonomi, terutama tingkat inflasi yang masih tinggi dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Data Core PCE AS untuk bulan Juli naik 0,2% secara bulanan (MoM) dan 3,3% secara tahunan (YoY)—masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%—sementara pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua tetap solid di angka 1,5%. Kondisi ini berpotensi membuat pasar lebih volatil karena investor menjadi semakin sensitif terhadap perkembangan inflasi, data ketenagakerjaan, kebijakan suku bunga, dan arah kebijakan perdagangan.

GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap menjadi fokus pasar energi global. Harga minyak kembali menguat setelah sempat turun dalam tiga sesi sebelumnya, seiring pasar menimbang prospek pasokan yang membaik melalui Selat Hormuz terhadap gangguan yang meningkat pada ekspor energi Rusia. Perkembangan ini membuat investor terus memantau potensi gangguan pasokan global yang dapat kembali memicu volatilitas harga energi dan tekanan inflasi.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter tertuju pada meningkatnya kemungkinan pengetatan kebijakan kembali oleh Federal Reserve. Kombinasi antara ekonomi AS yang masih relatif kuat dan inflasi yang persisten telah meningkatkan ekspektasi pasar akan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Selanjutnya, para investor akan mencermati pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter. Di Jepang, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 87% bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25% pada bulan September.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) bergerak naik di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed masih mungkin menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 2 bps menjadi 4,24%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di level yang lebih tinggi, yakni sekitar 4,66%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun stabil di angka 1,69%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 2,89% di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ pada bulan September. Indeks Dolar AS bergerak di atas level 99, didukung oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Sementara itu, mata uang Euro melemah ke bawah level US$1,165 dan Yen Jepang bergerak stabil di kisaran JPY159,2 per Dolar AS.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar ditutup melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun lebih dari 0,5% akibat tekanan pada saham-saham sektor perbankan, kesehatan, dan komoditas. Indeks CAC 40 Prancis anjlok 1,7% ke level 8.319 menjelang tinjauan Fitch terhadap peringkat kredit pemerintah Prancis, sementara indeks FTSE MIB Italia turun 1,2% ke level 52.265 dan indeks STOXX Europe 600 melemah 0,70%. Sebaliknya, indeks DAX 40 Jerman menguat sekitar 0,3% ke level 26.367, mencatatkan kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut.

-Pasar Asia bergerak bervariasi. Indeks KOSPI Korea Selatan memimpin kenaikan dengan penguatan 1,53% ke level 6.912, didukung oleh optimisme terhadap kinerja Nvidia. Indeks Shanghai Composite naik 1,13% ke level 3.956,6 dan indeks Shenzhen Component menguat 1,50% ke level 14.048,9 di tengah meningkatnya harapan akan adanya dukungan kebijakan baru dari pemerintah Tiongkok. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,2%, sementara Topix naik 0,15%. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,3% ke level 25.566 di tengah sikap hati-hati investor, sedangkan indeks Sensex India turun sekitar 0,7%. Di Asia Tenggara, indeks FKLCI Malaysia melemah 0,39% dan STI Singapura turun 0,65%.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi, dengan sektor energi kembali menguat. Minyak Brent naik 1,9% menjadi sekitar US$89,5 per barel, sementara WTI menguat 1,67% menjadi sekitar US$83,6 per barel. Harga batu bara berada di kisaran US$131,25 per ton, bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga minggu, didukung oleh permintaan energi di Asia dan risiko pasokan. Harga emas relatif stabil di kisaran US$4.602 per ons sembari menanti sinyal kebijakan dari Ketua The Fed di Jackson Hole. Tembaga turun 0,23% menjadi sekitar US$6,5841 per pon, meski masih berada di dekat rekor tertinggi akibat risiko pasokan. Sementara itu, minyak kelapa sawit Malaysia melemah 0,74%, timah turun 1,84% menjadi sekitar US$54.827 per ton, dan nikel melemah 0,27% menjadi sekitar US$16.875 per ton, meskipun ekspektasi pasokan yang lebih ketat dari Indonesia memberikan dukungan terhadap harga.

INDONESIA: Tekanan terhadap kelas menengah telah menjadi perhatian pemerintah di tengah meningkatnya keresahan sosial dan aksi unjuk rasa pada hari Kamis (27/08/2026). Selama lima tahun terakhir, sekitar 9,48 juta orang telah keluar dari kelompok kelas menengah, padahal kelas menengah dan mereka yang beraspirasi masuk ke kelompok tersebut mencakup 66,35% dari populasi serta menopang 81,49% konsumsi masyarakat. Tekanan biaya hidup, pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian pekerjaan, dan kenaikan biaya produksi berpotensi melemahkan konsumsi rumah tangga dan menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dinilai perlu memperkuat perlindungan bagi kelas menengah-bawah melalui insentif pajak, dukungan transportasi dan perumahan, program pelatihan ulang keterampilan (reskilling), serta kebijakan yang mendorong penciptaan lapangan kerja formal agar kelompok ini tidak semakin berisiko jatuh keluar dari kelas menengah.

-Selain itu, pimpinan DPR menetapkan tanggal 15 Desember 2026 sebagai tenggat waktu penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan menyatakan kesiapan untuk mundur jika target tersebut tidak tercapai. Sementara itu, Komisi XI DPR telah menyetujui Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026–2031, dengan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior dan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI. Ketiga nama ini selanjutnya akan dibawa ke Sidang Paripurna DPR pada 1 September 2026 untuk disahkan. Pergantian pimpinan BI menjadi sorotan pasar, karena investor akan memantau keberlanjutan kebijakan moneter, independensi bank sentral, serta arah kebijakan dalam menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,81% di level 6.521,75 pada perdagangan hari Kamis (27/08), setelah bergerak di kisaran 6.376,65 – 6.521,75. Meskipun indeks mencatat kenaikan signifikan, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp113,45 miliar di Pasar Reguler. Arus masuk dana asing terutama tertuju pada BUMI, BRMS, TPIA, INET, dan BMRI, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada BBRI, TLKM, BBNI, ISAT, dan ASII. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah melemah dan bergerak di kisaran Rp17.750 per Dolar AS, dengan sentimen domestik yang masih rentan di tengah aksi unjuk rasa dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap situasi sosial-politik dalam negeri.

-Secara teknikal, IHSG berhasil rebound setelah koreksinya menyentuh level support dinamis dan garis tren (trendline). IHSG tetap bertahan di atas EMA10 (6.439), EMA20 (6.371), dan EMA50 (6.323), serta masih bergerak di atas garis tren naik (uptrend). Indikator RSI (14) kembali naik ke level 60,60, yang mengindikasikan momentum bullish masih cukup kuat dan belum memasuki wilayah jenuh beli (overbought). Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 pada area 6.439, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji kembali level resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733 (menutup area gap). Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat dan IHSG menembus level support 6.439, indeks berpotensi terkoreksi menuju kisaran 6.371–6.323 sebagai area support dinamis.

“Kami menyarankan strategi untuk mempertahankan posisi (hold) atau melakukan pembelian secara selektif saat harga turun (buy on weakness) selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.439–6.371; namun, investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level 6.323, karena hal tersebut dapat membuka peluang terjadinya koreksi yang lebih dalam,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (28/8).

Berita Terkini

See More