ANALIS MARKET (08/7/2026): IHSG Berpotensi Bullish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa (07/07/26), dipimpin oleh aksi jual saham teknologi dan semikonduktor setelah investor mulai menerapkan rotasi sektor menyusul reli kuat pada saham AI dalam beberapa bulan terakhir.
Indeks S&P 500 turun 0,45% menjadi 7.503,85, Nasdaq Composite melemah 1,16% menjadi 25.818,69, Nasdaq 100 terkoreksi 1,8%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,25% menjadi 52.925,15.
Pelemahan dipicu oleh aksi ambil untung pada saham chip setelah Samsung Electronics merilis proyeksi laba kuartalan yang meningkat tajam tetapi masih gagal memenuhi ekspektasi pasar yang sangat tinggi.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar menjadi lebih berhati-hati karena kekhawatiran meningkat atas valuasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Meskipun Samsung memperkirakan laba operasional kuartal kedua melonjak sekitar 19 kali lipat dibandingkan tahun lalu, investor menilai bahwa prospek ini telah sepenuhnya tercermin dalam harga saham, memicu aksi ambil untung di sektor semikonduktor global. Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan bahwa perusahaan AI Tiongkok, DeepSeek, sedang mengembangkan chip AI sendiri, yang menimbulkan potensi persaingan baru di industri ini. Akibatnya, saham AMD turun 6,5%, Intel anjlok 9,7%, Micron melemah 4,7%, dan Broadcom turun 0,8%, sementara Nvidia masih berhasil naik 0,7%. Investor juga mulai beralih ke sektor defensif setelah reli panjang di saham teknologi. Fokus pasar kini tertuju pada notulen rapat FOMC bulan Juni, yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali meningkat menyusul laporan serangan terhadap tiga kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, Pemerintah AS mencabut izin penjualan minyak mentah Iran sebagai respons terhadap konflik yang meningkat. Kondisi ini kembali menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas pasokan energi global dan memicu kenaikan tajam harga minyak.
REGULASI & KEBIJAKAN: Presiden Donald Trump menghadiri Forum Industri Pertahanan NATO di Ankara dan kembali mengkritik kontribusi negara-negara anggota NATO terhadap kepentingan keamanan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan kembali penjualan jet tempur F-35 ke Turki serta membuka peluang untuk pencabutan sanksi terhadap negara tersebut. Sementara itu, investor masih menunggu publikasi risalah rapat FOMC sebagai petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) sedikit menguat mendekati level 101, didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya permintaan aset safe-haven karena memanasnya kembali ketegangan geopolitik. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi 4,51%, tertinggi dalam sekitar satu bulan, sementara imbal hasil 30 tahun kembali menembus angka 5%. Imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun juga meningkat menjadi 4,20%, mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik di atas 2,80%, level tertinggi sejak 1997, sementara USD/JPY bertahan di sekitar 162 karena tidak adanya intervensi dari otoritas Jepang.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar melemah menyusul tekanan pada sektor teknologi. DAX Jerman turun 1,4% menjadi 25.465, mengakhiri kenaikan lima hari berturut-turut. CAC 40 Prancis melemah 0,5%, FTSE MIB Italia turun 1,0%, dan STOXX Europe 600 terkoreksi 0,65%. Di sisi lain, FTSE 100 Inggris masih berhasil naik 0,3% ke level tertinggi empat bulan berkat kenaikan saham energi bersamaan dengan lonjakan harga minyak.
-Pasar Asia didominasi oleh pelemahan. KOSPI Korea Selatan anjlok 4,91% setelah aksi ambil untung pada saham teknologi menyusul penurunan Samsung dan SK Hynix. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,12%, sementara TOPIX melemah 0,97%. Di Tiongkok, Shanghai Composite turun 1,26% dan Shenzhen Component melemah 1,24% karena meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,5%, sementara STI Singapura menjadi satu-satunya indeks yang menguat signifikan dengan kenaikan 1,57%.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam dengan bias bullish pada sektor energi. WTI melonjak di atas US$72/barel, sementara Brent naik di atas US$76/barel, masing-masing menguat lebih dari 5% selama seminggu menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan pencabutan izin ekspor minyak Iran oleh AS. Sebaliknya, batu bara termal turun di bawah US$130/ton seiring berlanjutnya pembicaraan perdamaian AS-Iran, meningkatkan harapan untuk normalisasi pasokan energi jangka panjang. Emas bergerak stabil di sekitar US$4.170/ounce menjelang pengumuman notulen rapat FOMC, sementara tembaga bertahan di atas US$6,15/lb. CPO Malaysia menguat hingga di atas MYR4.500/ton didukung oleh kenaikan harga minyak nabati global. Di sisi logam dasar, nikel bertahan di sekitar US$16.400/ton, masih mendekati level terendahnya sejak akhir Desember karena ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia, sementara timah turun menjadi US$50.550/ton, level terendahnya dalam lebih dari tujuh minggu seiring dengan meningkatnya kekhawatiran tentang prospek pengeluaran infrastruktur AI.
INDONESIA: Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia yang menghasilkan sejumlah komitmen investasi baru. Singapura menyatakan minat untuk memperluas investasi di Indonesia, termasuk perluasan Kawasan Industri Kendal hingga 1.000 hektar untuk menarik investasi baru, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Selain itu, minat investor Singapura di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) juga tetap tinggi seiring perkembangan kawasan tersebut menjadi pusat ekonomi digital. Komitmen ini dianggap kredibel mengingat Singapura tetap menjadi investor asing terbesar di Indonesia, meskipun pemerintah masih perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia, kemudahan berbisnis, dan kepastian hukum agar komitmen investasi dapat segera terealisasi menjadi proyek operasional.
-Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa proyeksi defisit APBN 2026 sebesar 2,85% dari PDB belum memperhitungkan potensi efisiensi anggaran dari Program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG) Pemerintah. Pemerintah juga melihat peluang perbaikan defisit melalui penurunan harga minyak dunia, peningkatan penerimaan pajak dan bea cukai, serta peningkatan pertumbuhan ekonomi. Untuk mengoptimalkan pendapatan negara, pemerintah akan meningkatkan pengawasan terhadap kinerja kantor pajak dan memperkuat implementasi sistem pajak digital untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak tanpa menambah jenis pajak baru. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus menjaga defisit APBN tetap terkendali di bawah batas 3% PDB.
-JCI ditutup lebih tinggi sebesar 1,19% ke level 5.986,50 pada perdagangan Selasa (07/07), dengan pergerakan di kisaran 5.890,44 – 5.987,01. Meskipun indeks melanjutkan kenaikannya selama lima hari berturut-turut, investor asing masih mencatat penjualan bersih sebesar Rp205,38 miliar, sehingga penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) mencapai Rp89,27 triliun. Tekanan penjualan asing terutama terjadi di BMRI, TPIA, MAPI, TLKM, dan BRMS, sementara akumulasi pembelian tercatat di BBCA, BBRI, ADRO, AMMN, dan BBNI. Dari sisi makro, sentimen positif datang dari cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi USD145,6 miliar, melampaui ekspektasi pasar, sehingga memperkuat fundamental eksternal dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Rupiah menguat sedikit ke kisaran Rp17.980 per dolar AS, didukung oleh pelemahan dolar AS menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve. Peningkatan cadangan devisa juga membantu memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global. Secara teknis, JCI melanjutkan kenaikannya selama 5 hari berturut-turut setelah berhasil mencapai breakout minor di atas garis downtrend minor dan ditutup pada 5.986,50, sekaligus berada di atas EMA10 (5.889) dan EMA20 (5.962). Breakout ini menunjukkan bahwa tekanan jual mulai berkurang dan membuka peluang untuk rebound teknis berkelanjutan dalam jangka pendek. Meskipun demikian, apresiasi tersebut belum mengubah tren utama karena indeks masih bergerak dalam saluran downtrend yang lebih besar dan tetap di bawah EMA50 (6.343), yang berarti tren jangka menengah masih cenderung bearish. Sementara itu, RSI (14) berada di level 47,92 dan terus bergerak naik dari area oversold. Ini menunjukkan bahwa momentum pembelian mulai menguat, tetapi RSI tetap di bawah level 50 sehingga konfirmasi perubahan tren ke arah bullish belum sepenuhnya terbentuk.
“Dari perspektif teknikal, selama JCI mampu bertahan di atas area 5.960 – 5.980 (EMA20 serta area breakout), peluang untuk melanjutkan rebound teknikalnya tetap terbuka dengan target resistensi pertama di 6.045 – 6.100, diikuti oleh 6.121 – 6.171. Jika resistensi tersebut berhasil ditembus, peluang penguatan menuju EMA50 di sekitar 6.343 akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika JCI jatuh kembali di bawah 5.960, breakout saat ini berpotensi menjadi false breakout, sehingga indeks berisiko menguji area support 5.900 – 5.882 lagi, kemudian 5.820, dan 5.677 sebagai level support utama. Oleh karena itu, konfirmasi berupa peningkatan volume transaksi dan akumulasi investor asing yang berkelanjutan masih diperlukan agar peluang pembalikan tren menjadi lebih kuat dan berkelanjutan,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (08/7).




