See More

03 Agustus 2026, 19:41

03 Agustus 2026, 19:28

03 Agustus 2026, 19:16

03 Agustus 2026, 18:48

03 Agustus 2026, 18:34

03 Agustus 2026, 18:25
BPDP Kemenkeu|zaid burhan ibrahim|Industri Sawit|Ekspor Sawit|Hilirisasi Sawit
Oleh: Ronal

Foto: Dok. Kemenkeu
Pasardana.id - Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Zaid Burhan Ibrahim menyebut, sawit saat ini bukan hanya sekedar komoditas ekspor unggulan saja, melainkan sudah menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional.
“Nilai ekspor sawit Indonesia yang setiap tahunnya mencapai lebih dari USD20 miliar, ini membuat komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara,” ujarnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7).
Ditambahkan Zaid, struktur ekspor sawit Indonesia sekarang sudah mengalami perubahan.
“Saat ini, lebih dari 80 persen ekspor sawit kita sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah,” ujarnya.
Hal tersebut menunjukkan keberhasilan hilirisasi sektor sawit dalam memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
Produk hilir tersebut misalnya crude palm oil (CPO) untuk pangan, oleokimia untuk consumer goods, dan biofuel sebagai sumber energi.
Selain menghasilkan devisa, secara tidak langsung komoditas sawit juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi melalui sektor perkebunan.
Pada 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) sekitar 4,5 persen.
Pekebun rakyat menghasilkan lebih dari 16 juta ton produk sawit setiap tahunnya.
“Sektor sawit juga menjadi bagian penting dari sektor pertanian, yang menjadi penopang utama perekonomian nasional. Namun, yang terpenting dari seluruh capaian itu adalah peran besar pekebun rakyat yang mencakup 41 persen dari industri sawit nasional,” bebernya.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja.
Baik yang bekerja langsung di perkebunan, maupun yang terserap di sektor transportasi, logistik dan UMKM.
Kontribusi sawit yang begitu signifikan bagi perekonomian nasional menjadikan pemerintah terus mendorong produktivitas sawit.
Karena itu, BPDP melaksanakan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dalam bentuk hibah bagi pekebun sawit rakyat, bentuknya berupa dana Rp60 juta per hektar per orang, maksimal diberikan untuk 4 hektar.
Dengan demikian, pekebun sawit rakyat bisa terus meremajakan pohon-pohon sawit yang sudah tua dan produktivitasnya berkurang.
Selain itu, masih ada tantangan utama pengembangan komoditas ini terkait masalah produktivitas.
“Yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas sawit tanpa perlu menambah lahan,” tukas Zaid.