Pefindo| Pasar Surat Utang Korporasi|surat utang korporasi|Penerbitan Surat Utang Korporasi|PT Pemeringkat Efek Indonesia

PEFINDO Ramal Pasar Surat Utang Korporasi Tetap Bergairah di Semester II-2026, Meski Dihantam Risiko Global

Oleh: Harry

22 Juli 2026, 14:35
PEFINDO Ramal Pasar Surat Utang Korporasi Tetap Bergairah di Semester II-2026, Meski Dihantam Risiko Global

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi tetap akan terjaga hingga Semester II-2026.

Meski dibayangi ketidakpastian global dan tingginya suku bunga, kebutuhan pendanaan emiten yang besar serta kuatnya minat investor diyakini akan menopang pasar.

Kepala Divisi Riset Ekonomi sekaligus Chief Economist PEFINDO, Suhindarto, memperkirakan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 berada di kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan proyeksi tengah mencapai Rp175,77 triliun.

"Realisasi penerbitan hingga Juni 2026 mencapai Rp87,35 triliun atau setara Rp174,70 triliun jika disetahunkan," ujar Suhindarto dalam konferensi pers daring, Rabu (22/7).

Menurutnya, prospek pasar surat utang korporasi masih didukung sejumlah faktor positif.

Salah satunya adalah kebutuhan refinancing yang masih sangat besar, mengingat surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada Semester II-2026 mencapai Rp107,51 triliun.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap stabil berkat kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif dan kebijakan moneter yang difokuskan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di sisi lain, minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap juga diperkirakan tetap tinggi karena menjadi alternatif investasi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham.

Namun, PEFINDO mengingatkan bahwa pasar masih menghadapi sejumlah tantangan yang berpotensi menahan laju penerbitan surat utang.

Risiko geopolitik global serta kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung hawkish dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi acuan.

Selain itu, tingginya yield acuan akibat suku bunga yang masih tinggi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, derasnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), hingga persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga menjadi tantangan bagi emiten.

PEFINDO juga mencatat investor kini semakin selektif dan lebih memilih surat utang dengan peringkat A ke atas.

Akibatnya, emiten dengan peringkat di bawah kategori tersebut masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses pasar obligasi.

Bahkan, bagi emiten dengan peringkat single-A ke bawah, tingkat kupon yang harus ditawarkan dinilai kurang kompetitif dibandingkan jika memperoleh pendanaan melalui kredit perbankan.

Meski demikian, Suhindarto tetap optimistis pasar surat utang korporasi Indonesia mampu mempertahankan daya saing hingga akhir tahun.

"Meski kondisi ekonomi cukup menantang, kami optimistis pasar surat utang korporasi Indonesia masih kompetitif," tegasnya.

Sebagai gambaran, penerbitan surat utang korporasi pada Semester I-2026 memang masih tergolong tinggi, meski mengalami sedikit perlambatan.

Total penerbitan tercatat Rp87,3 triliun, turun 3,91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp90,9 triliun.

Secara rinci, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk mencapai Rp80,3 triliun, turun 11,10% dibandingkan Semester I-2025 yang mencapai Rp90,3 triliun.

Di sisi lain, instrumen Medium Term Notes (MTN) justru mencatat lonjakan signifikan menjadi Rp7,1 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan hanya Rp0,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, hingga Semester I-2026 belum terdapat penerbitan instrumen efek utang lainnya, seperti sekuritisasi maupun Surat Berharga Komersial (SBK).

Berita Terkini

See More