IHSG Naik Turun Bikin Deg-degan? BNI Sekuritas Ungkap Strategi Pilih Saham Dividen yang Tetap Cuan
Oleh: Harry

foto: dok. BNI Sekuritas
Pasardana.id - Pergerakan IHSG yang naik turun dalam beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan bahwa pasar saham bergerak dalam siklus yang tidak selalu mudah diprediksi.
Dalam kondisi pasar yang yang berfluktuasi, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menilai saham dividen dapat menjadi salah satu pendekatan yang lebih ramah bagi investor pemula.
“Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy, dalam keterangan tertulis, Kamis (02/7).
Ia menambahkan, beberapa saham dividen dapat menawarkan dividen yield yang berada di kisaran 3%–6% per tahun, investor tetap bisa memperoleh imbal hasil meskipun pergerakan harga saham tidak terlalu signifikan, sehingga saham dividen lebih mudah dipahami karena tidak hanya bergantung pada pergerakan harga, sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Namun, Teddy menekankan bahwa karakter saham dividen tidak seragam.
“Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur (IDX: ICBP) di sektor konsumsi,” jelasnya.
Sementara itu, sektor komoditas seperti Bukit Asam (IDX: PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (IDX: ITMG) cenderung memiliki pola dividen lebih fluktuatif karena dipengaruhi oleh siklus harga komoditas.
Adapun Telkom Indonesia (IDX: TLKM) berada di posisi relatif seimbang, dengan riwayat pembagian dividen relatif konsisten dan potensi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Teddy juga mengingatkan investor pemula untuk memahami mekanisme pembagian dividen, yaitu cum date, ex-date, recording date, dan payment date.
Cum date merupakan hari terakhir investor dapat membeli saham dan tetap berhak atas dividen yang akan dibagikan.
Setelah memasuki ex-date, investor yang baru membeli saham tidak lagi berhak memperoleh dividen tersebut.
Sementara itu, recording date adalah tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen, sedangkan payment date merupakan tanggal pembayaran dividen kepada investor yang berhak.
Ia menambahkan, “musim dividen” di pasar saham Indonesia umumnya berlangsung setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang banyak diselenggarakan pada periode Maret hingga Juni, sehingga periode April hingga Juli biasanya menjadi periode banyak emiten mengumumkan dan membagikan dividen.
Dalam praktiknya, investor umumnya menerapkan dua strategi sederhana dalam berinvestasi pada saham dividen, yaitu buy and hold pada saham-saham yang memiliki fundamental baik, serta melakukan reinvestasi dividen untuk menambah kepemilikan saham secara bertahap.
“Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” ujar Teddy.
Menurut Teddy, saham dividen tidak menghilangkan risiko investasi, namun dapat membantu investor membangun portofolio yang lebih seimbang melalui kombinasi potensi capital gain dan arus kas yang berasal dari dividen.




