Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (05/6/2026): Tekanan Jual Mulai Reda, IHSG Berpeluang Rebound dalam Jangka Pendek

Oleh: Ria

05 Juni 2026, 08:39
ANALIS MARKET (05/6/2026): Tekanan Jual Mulai Reda, IHSG Berpeluang Rebound dalam Jangka Pendek

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (4 Juni 2026), dengan Dow Jones Industrial Average melonjak 1,73% ke rekor tertinggi baru, sementara S&P 500 naik 0,41% menjadi 7.584,31 dan Nasdaq sedikit terkoreksi sebesar 0,09% karena melemahnya saham teknologi dan semikonduktor.

Penguatan pasar dipimpin oleh sektor perawatan kesehatan, keuangan, dan industri, dengan UnitedHealth naik 5,2%, Goldman Sachs +4,9%, dan Merck +4,9%.

Di sisi lain, sektor teknologi berada di bawah tekanan setelah Broadcom anjlok 12,6% dan Micron turun 7,6%. Sentimen pasar juga terbantu oleh penurunan volatilitas, yang tercermin pada VIX yang turun 4,2% ke level 15,39.

SENTIMEN PASAR: Sentimen investor membaik karena kekhawatiran inflasi mereda setelah harga minyak terkoreksi tajam. Penurunan harga energi mendorong rotasi dana ke sektor defensif dan keuangan, sekaligus mengurangi tekanan pada ekspektasi inflasi jangka pendek. Selain itu, breadth pasar tetap solid dengan jumlah saham yang naik jauh melebihi jumlah saham yang turun di NYSE dan Nasdaq, menunjukkan bahwa selera risiko investor tetap utuh.

PERANG DAGANG: Pemerintahan Presiden Donald Trump menekankan bahwa mereka akan terus menghormati batasan tarif yang disepakati dalam pakta perdagangan dengan Uni Eropa dan Jepang, memberikan kepastian bagi pasar global. Namun, AS masih membuka kemungkinan untuk menerapkan tarif tambahan melalui investigasi Bagian 301 terkait dugaan praktik kerja paksa dan kelebihan kapasitas manufaktur di beberapa negara mitra dagang utama. Hasil investigasi ini diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan dan berpotensi menjadi sumber ketidakpastian baru bagi perdagangan global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menekankan bahwa perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa dan Jepang tetap berlaku, meskipun pemerintah AS sedang mengevaluasi opsi tarif baru berdasarkan hasil investigasi perdagangan yang sedang berlangsung. Sementara itu, Uni Eropa menekankan bahwa semua ketentuan dalam perjanjian tarif 15% yang telah disepakati sebelumnya harus terus dihormati oleh kedua belah pihak.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di 99,43, sementara pasangan EUR/USD bertahan di sekitar 1,16. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun sekitar 4 bps menjadi 4,46%, hampir menghapus kenaikan 6 bps dari sesi sebelumnya, karena kekhawatiran inflasi mereda setelah koreksi tajam harga minyak. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun naik sedikit sebesar 1bp menjadi 4,06%, mencerminkan pasar yang tetap berhati-hati terhadap prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve. Pergerakan ini menyebabkan kurva imbal hasil sedikit lebih terbalik lagi, menandakan ekspektasi bahwa suku bunga jangka pendek akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Sementara itu, USD/JPY naik tipis ke 160,04, mempertahankan posisi Yen di dekat level terlemahnya dalam beberapa dekade terakhir. Pasar masih mengamati dengan cermat potensi intervensi oleh otoritas Jepang serta arah kebijakan moneter global di masa mendatang.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa ditutup lebih tinggi sejalan dengan membaiknya sentimen investor setelah muncul tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak. Indeks STOXX 600 naik 0,53%, CAC 40 Prancis menguat 1,1%, DAX Jerman naik 0,5%, sementara FTSE 100 Inggris hanya naik sedikit karena masih terbebani oleh melemahnya saham energi dan perbankan. Investor juga terus memantau perkembangan negosiasi dengan Iran, yang dinilai mampu membuka peluang untuk kesepakatan yang lebih luas dan mengurangi risiko geopolitik di kawasan tersebut. Selain itu, berita tentang implementasi gencatan senjata antara Israel dan Lebanon semakin memperkuat optimisme pasar global.

-Sebaliknya di Asia, sebagian besar bursa saham ditutup lebih rendah, dipimpin oleh Nikkei 225 Jepang yang turun 1,36% menjadi 67.470 dan TOPIX yang terkoreksi 1,11% menjadi 3.952 sejalan dengan aksi ambil untung pada saham teknologi dan AI setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi. Di Tiongkok, Shanghai Composite turun 0,64% dan Shenzhen Component melemah 0,27% di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi tarif tambahan AS pada beberapa mitra dagang, termasuk Tiongkok. Indeks Straits Times Singapura juga terkoreksi 1,38%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 1,5% karena menurunnya selera terhadap aset berisiko menyusul peningkatan kembali ketegangan antara AS dan Iran.

KOMODITAS: Harga minyak terkoreksi tajam sejalan dengan meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan global dan aksi ambil untung setelah reli yang kuat dalam beberapa minggu terakhir. Minyak mentah Brent turun 2,6% menjadi USD95,24/barel, sementara WTI melemah 3,1% menjadi USD93,03/barel. Penurunan harga minyak menjadi faktor utama yang membantu meningkatkan sentimen pasar saham dan meredakan ekspektasi inflasi.

-Harga emas naik 0,8% menjadi USD4.504/troy ounce di tengah sedikit pelemahan Dolar AS dan permintaan berkelanjutan untuk aset lindung nilai karena ketidakpastian geopolitik dan perkembangan kebijakan perdagangan global.

AGENDA HARI INI:

-India (IN): Tingkat Pertumbuhan PDB Kuartal 1. -Kanada (CA): Tingkat Pengangguran Mei & PMI Ivey Mei. -Amerika Serikat (US): Data Non-Farm Payrolls (NFP) Mei & Tingkat Pengangguran Mei.

INDONESIA: Pemerintah dan DPR sedang mempersiapkan pembentukan Pusat Keuangan Internasional Indonesia (IIFC) melalui revisi Undang-Undang P2SK sebagai upaya untuk memperkuat daya saing sektor keuangan nasional dan menarik investasi global. IIFC akan menjadi zona keuangan internasional dengan berbagai hak istimewa regulasi, termasuk insentif pajak, pengawasan khusus, dan mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih cepat untuk meningkatkan kepastian hukum bagi investor. Zona ini dirancang sebagai pusat kegiatan jasa keuangan yang meliputi perbankan, asuransi, dana pensiun, modal ventura, dan kantor keluarga. Kehadiran IIFC diharapkan dapat memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas sumber pendanaan, dan meningkatkan aliran investasi asing ke Indonesia. Namun, efektivitas implementasinya akan sangat bergantung pada desain regulasi, lokasi zona tersebut, dan kemampuan Indonesia untuk bersaing dengan pusat keuangan regional yang sudah mapan.

-Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah fokus Program Makan Siang Gratis (MBG) setelah anggaran 2026 dipotong menjadi Rp268 triliun dari rencana awal Rp335 triliun. Pemerintah kini memprioritaskan peningkatan kualitas operasional dan standar keamanan pangan di lebih dari 27.000 dapur umum yang sudah beroperasi, serta memperluas jangkauan program ke daerah terpencil daripada secara agresif memperluas dapur umum baru. Perubahan strategi ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap tata kelola program menyusul dugaan kasus korupsi yang melibatkan mantan Kepala BGN serta beberapa kasus keracunan makanan. Untuk menjaga keberlanjutan program, pemerintah juga membuka peluang pendanaan alternatif melalui hibah dan program CSR. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas layanan MBG, meskipun target perluasan jumlah penerima manfaat berpotensi lebih moderat daripada rencana awal.

-JCI kembali melemah sebesar 1,70% dan ditutup pada level 5.839,79, setelah sempat menyentuh level terendah 5.644 yang sekaligus menguji support garis tren jangka panjang sebelum akhirnya mengalami rebound. Tekanan pasar masih dipengaruhi oleh aksi jual investor asing yang mencatat penjualan bersih sebesar Rp1,27 triliun, serta pelemahan Rupiah menjadi Rp18.034/USD. Secara teknis, JCI masih bergerak dalam saluran bearish dan tetap di bawah MA10 (6.181), MA20 (6.454), dan MA50 (6.956), sehingga tren jangka pendek hingga menengah masih cenderung bearish. Namun, indikator RSI (21), yang berada di wilayah oversold, mulai membentuk divergensi positif, menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang untuk rebound teknis dalam jangka pendek.

“Selama JCI mampu bertahan di atas area 5.644 – 5.600, peluang penguatan menuju 6.000 – 6.050 hingga 6.181 – 6.230 tetap terbuka. Sebaliknya, jika area 5.644 ditembus lagi, risiko pelemahan lebih lanjut menuju 5.500 perlu diantisipasi,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (05/6).

Berita Terkini

See More