Pemerintah Diminta Permudah Impor Bahan Baku Industri Berorientasi Ekspor
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id – Pemerintah diminta untuk memberikan kemudahan akses impor bahan baku, khususnya bagi industri yang berorientasi ekspor.
Desakan tersebut datang dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), yang menilai langkah tersebut sangat krusial untuk menjaga produktivitas sektor manufaktur di tengah tantangan pelemahan rupiah.
Bob Azam, selaku Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo mengatakan, bahwa meskipun pemerintah berupaya menjaga surplus neraca perdagangan untuk menstabilkan kurs, kebijakan tersebut jangan sampai menghambat ketersediaan bahan baku industri.
Menurut dia, hambatan pada impor bahan baku malah justru dapat menjadi boomerang bagi penerimaan devisa negara.
“Kita juga mengerti bahwa sekarang kita lagi menghadapi pelemahan rupiah. Salah satu untuk mengendalikan pelemahan rupiah itu kan kita harus mempertahankan surplus. Tapi jangan sampai gara-gara mempertahankan surplus, impor bahan baku malah ditahan,” ujar Bob di Kantor Apindo, Jakarta, Selasa (23/6).
Ia menegaskan, bahwa industri yang berorientasi ekspor memiliki peran vital dalam menghasilkan devisa.
Pasalnya, jika proses impor bahan baku dipersulit, industri akan kehilangan momentum produktivitas dan gagal memenuhi permintaan pasar global.
Bob menambahkan, keluhan mengenai sulitnya mendapat bahan baku impor sudah mulai dirasakan oleh pelaku industri.
Padahal, lanjut dia, jika bahan baku tersebut diolah dan diekspor kembali, nilai tambahnya akan sangat membantu penguatan cadangan devisa nasional.
“Kalau dia bisa impor bahan baku kemudian ekspor, ya why not? Sudah jadi keluhan industrilah sekarang impor bahan baku susah. Kita mengerti karena kita lagi mempertahankan kurs, tapi kalau misalnya impor itu untuk tujuan ekspor ya mestinya bisa didahulukan,” ucapnya.
Dan sebagai solusinya, Bob mengungkap bahwa pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) lewat tim debottlenecking untuk mendorong implementasi Indonesia Single Risk Management.
Sistem ini diharapkan mampu memetakan perusahaan-perusahaan dengan kepatuhan tinggi.
Dengan sistem profiling yang akurat, pemerintah diharapkan dapat lebih selektif namun tetap suportif terhadap industri strategis, sehingga target penguatan rupiah melalui jalur ekspor dapat tercapai tanpa mengorbankan roda produksi nasional.
“Jadi perusahaan-perusahaan itu sudah di-profiling. Jadi kalau perusahaan track record-nya bagus, ya jangan ditahan-tahan (impor bahan bakunya),” tukas Bob.





