Privy|kinerja perusahaan|Ekosistem startup|MatchCAP Singapore 2026|Endeavor Entrepreneur|Artificial Intelligence (AI)

Dari Indonesia ke Panggung Global, Privy Ungkap Rahasia Raup Pertumbuhan 25 Kali Lipat dan Tembus 71 Juta Pengguna

Oleh: Corri

02 Juni 2026, 16:24
Dari Indonesia ke Panggung Global, Privy Ungkap Rahasia Raup Pertumbuhan 25 Kali Lipat dan Tembus 71 Juta Pengguna

Foto : istimewa

Pasardana.id - Ekosistem startup Indonesia dan Asia Tenggara terus menunjukkan perkembangan menuju fase yang lebih matang.

Seiring meningkatnya fokus terhadap keberlanjutan bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang, perusahaan teknologi kini dituntut untuk membangun fondasi yang kuat sekaligus menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan ekonomi digital.

Di tengah lanskap yang semakin selektif tersebut, Privy hadir mewakili startup Indonesia pada gelaran MatchCAP Singapore 2026, yang turut menjadi cerminan bagaimana startup Indonesia kini berkembang melampaui perusahaan berbasis teknologi semata, menunju peran yang lebih fundamental dalam membangun infrastruktur digital.

Forum yang difasilitasi oleh Endeavor, organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan _high impact entrepreneur _di seluruh dunia ini mempertemukan 59 perusahaan dengan pertumbuhan tinggi dan 73 investor global dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa.

Pada kesempatan itu, Marshall Pribadi selaku CEO dan Founder Privy yang juga terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur pada tahun 2018, sebuah ajang pemilihan para pendiri bisnis berskala besar (high-impact founders) melalui proses seleksi internasional ketat oleh Endeavor, dipercaya untuk menyampaikan opening remarks dan memaparkan perjalanan Privy bersama Endeavor serta visinya terhadap masa depan kepercayaan digital atau digital trust.

“Saya terpilih menjadi bagian dari Endeavor Entrepreneur sejak 2018, dan sejak 8 tahun lalu hingga sekarang, pertumbuhan yang kami capai di Privy—peningkatan pendapatan 25 kali lipat dan lebih dari 71 juta pengguna terverifikasi—tidak akan terjadi tanpa jejaring atau networking yang tepat di sekitar kami,” ungkap Marshall, seperti dilansir dalam siaran pers, Selasa (02/6).

Marshall menegaskan, bahwa sejak pendirian Privy di tahun 2016, visi perusahaan bukanlah untuk sekedar menyediakan tanda tangan elektronik, melainkan membangun ekosistem kepercayaan digital atau digital trust.

“Sebab, seiring dengan meningkatkan aktivitas digital lintas industri, kepercayaan merupakan mata uang atau currency utama dalam interaksi digital. Telerbih di era Artificial Intelligence (AI), semakin banyak keputusan, transaksi, hingga proses bisnis yang bergantung pada identitas yang terpercaya dan dokumen digital yang autentik. Hal ini juga yang membuat kami optimis bahwa kebutuhan terhadap kepercayaan digital atau digital trust menjadi semakin penting dalam berbagai aktivitas di ruang digital yang turut terefleksi pada pertumbuhan Privy hingga saat ini,” imbuhnya.

Bagi Privy, kepercayaan digital atau digital trust mencakup tiga lapisan utama yang juga menjadi ekosistem Privy yaitu Trusted Identity (Identitas Terpercaya), Trusted Communication Channel (Saluran Komunikasi Terpercaya), dan Trusted Transaction Authenticity (Keaslian Transaksi Terpercaya).

“Pada lapisan Trusted Identity, Privy membantu memastikan identitas individu maupun institusi dapat diverifikasi secara aman dan akurat. Privy pun menjadi satu-satunya institusi yang menjamin identitas dengan Certificate Warranty hingga Rp1 milar untuk melindungi pengguna dari kerugian akibat dokumen yang ditandatangani dengan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli. Sementara melalui Trusted Communication Channel, Privy memastikan interaksi digital berlangsung melalui jalur yang aman dan terverifikasi, sehingga informasi yang dipertukarkan memiliki integritas dengan identitas yang bisa dibuktikan. Pada lapisan Trusted Transaction Authenticity, Privy memastikan setiap transaksi digital memiliki bukti autentik yang dapat diverifikasi melalui teknologi seperti tanda tangan elektronik, digital seal, dan timestamping,” tegas Marshall.

Pada sesi panel diskusi bertajuk “Built to Last: Designing Startups for Uncertainty”, Chief Operating Officer (COO) Privy, Nitin Mathur, mengungkapkan perjalanan Privy sejak tahun 2016 memberikan banyak pelajaran bagaimana perusahaan perlu beradaptasi di tengah perubahan teknologi maupun dinamika pasar yang terus berkembang.

“Yang mengingatkan saya dari ruangan ini adalah bahwa daya tahan bisnis itu tidak terjadi secara kebetulan. Di Privy, kepercayaan merupakan fondasi, bukan hanya sekedar fitur. Sehingga ketahanan bisnis pun juga harus dibangun sejak hari pertama, bukan “ditambal” ketika masalah sudah muncul,” ujar Nitin.

Ke depannya, Privy juga telah menyiapkan product-roadmap yang akan semakin mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam kepercayaan digital, termasuk fitur yang memudahkan pengguna dengan dukungan Artificial Intelligence (AI).

Berita Terkini

See More