Keir Starmer Mundur dari Jabatan PM Inggris, Analis Ungkap Dampaknya bagi Eropa dan Ekonomi Global
Oleh: Harry

Foto : istimewa
Pasardana.id - Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/6/2026), mengakhiri masa jabatannya yang baru berjalan kurang dari dua tahun sejak membawa Partai Buruh (Labour Party) kembali berkuasa melalui kemenangan telak pada Pemilu 2024.
Pengunduran diri tersebut terjadi setelah meningkatnya tekanan dari internal Partai Buruh, merosotnya popularitas pemerintah, hingga kekalahan dalam pemilihan lokal yang menjadi sinyal melemahnya dukungan publik terhadap pemerintahannya.
Sudah Diprediksi Pasar
Ekonom dan analis pasar dari ING Bank, Francesco Pesole, menilai mundurnya Starmer tidak mengejutkan pelaku pasar sehingga dampak langsung terhadap poundsterling relatif terbatas.
"Pasar sudah mengantisipasi kemungkinan ini. Karena itu reaksi awal terhadap poundsterling dan obligasi pemerintah Inggris cenderung tenang," kata Pesole.
Data Reuters menunjukkan poundsterling hanya melemah tipis dan imbal hasil obligasi pemerintah (gilt) relatif stabil setelah pengumuman tersebut.
Namun, para investor kini mengalihkan perhatian pada sosok pengganti Starmer dan arah kebijakan fiskal pemerintahan berikutnya.
Analis: Inggris Masuk Fase Ketidakpastian Politik Baru
Menurut sejumlah pengamat yang dikutip Reuters, masalah terbesar Inggris bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi dan fiskal setelah era Starmer berakhir.
Kolumnis Reuters Breakingviews, Jon Sindreu, sebelumnya menulis bahwa pasar khawatir jika pengganti Starmer mengadopsi kebijakan belanja pemerintah yang lebih agresif, yang berpotensi memicu gejolak di pasar obligasi Inggris.
Namun, ia juga menilai kepemimpinan baru dapat memberikan ruang bagi reformasi ekonomi yang lebih segar.
Sementara itu, mantan pejabat senior Kementerian Luar Negeri Inggris, Olly Robbins, pernah memperingatkan bahwa ketidakstabilan politik yang berkepanjangan dapat mengurangi pengaruh diplomatik Inggris di panggung internasional.
Risiko bagi Hubungan Inggris-Uni Eropa
Selama menjabat, Starmer dikenal berupaya memperbaiki hubungan Inggris dengan Uni Eropa pasca-Brexit melalui pendekatan yang lebih pragmatis.
Pengamat politik Inggris dari University of Birmingham, Prof. Anand Menon, dalam sejumlah kajiannya menilai Starmer berhasil mengurangi ketegangan dengan Brussel dan membangun kembali koordinasi dengan Prancis dan Jerman, khususnya terkait keamanan Eropa dan dukungan kepada Ukraina.
Menurut Menon, pergantian kepemimpinan berpotensi membuat proses "reset relationship" dengan Uni Eropa mengalami perlambatan apabila pemimpin baru memiliki orientasi politik berbeda.
Dampak Geopolitik: Eropa Kehilangan Salah Satu Pilar Stabilitas
Dalam bidang geopolitik, Starmer selama ini menjadi salah satu pendukung utama Ukraina bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Bahkan beberapa hari sebelum pengunduran dirinya, ketiganya masih melakukan koordinasi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Analis Eurasia Group, Mujtaba Rahman, menilai pergantian kepemimpinan di London akan menambah ketidakpastian di Eropa pada saat kawasan tersebut sedang menghadapi perang Ukraina, konflik Timur Tengah, dan meningkatnya tensi perdagangan global.
"Eropa saat ini membutuhkan kesinambungan kepemimpinan, bukan periode transisi politik yang panjang," tulis Rahman dalam analisisnya.
Kebangkitan Populisme Menjadi Ancaman Baru
Reuters mencatat melemahnya dukungan terhadap Starmer turut dimanfaatkan oleh partai Reform UK yang dipimpin oleh Nigel Farage.
Fenomena tersebut menunjukkan menguatnya arus populisme di Inggris yang juga tengah terjadi di sejumlah negara Eropa.
Profesor politik dari King's College London, Sir John Curtice, sebelumnya menyebut Inggris sedang memasuki era "fragmentasi politik", di mana dominasi dua partai besar semakin terkikis dan pola pemilih menjadi lebih cair.
Ekonomi Inggris Berpotensi Kehilangan Momentum
Ekonom IMF sebelumnya memuji sejumlah reformasi yang dilakukan pemerintahan Starmer.
Namun, tantangan utama Inggris masih berupa produktivitas yang rendah, biaya hidup yang tinggi, dan pertumbuhan pendapatan yang lemah.
Ekonom senior Capital Economics, Paul Dales, memperkirakan ketidakpastian politik dapat membuat investor menahan ekspansi bisnis dalam jangka pendek.
"Pasar akan menunggu apakah pemerintahan berikutnya tetap menjaga disiplin fiskal atau justru meningkatkan pengeluaran secara agresif," ujarnya.
Siapa Pengganti Starmer?
Nama mantan Wali Kota Manchester, Andy Burnham, kini menjadi kandidat terkuat menggantikan Starmer setelah kemenangan besarnya dalam pemilihan sela Makerfield.
Burnham menyerukan perubahan fundamental terhadap ekonomi Inggris, termasuk reindustrialisasi wilayah utara dan meninggalkan pendekatan ekonomi "trickle-down".
Jika Burnham akhirnya memimpin, Inggris akan memasuki babak politik baru dengan agenda ekonomi yang kemungkinan lebih progresif.
Menurut banyak analis, pengunduran diri Keir Starmer bukan sekadar pergantian perdana menteri.
Peristiwa ini menjadi titik penting yang akan menentukan arah ekonomi Inggris, hubungan dengan Uni Eropa, hingga posisi geopolitik Inggris dalam menghadapi perang Ukraina dan ketegangan global.
Bagi pasar keuangan, gejolak mungkin tidak terjadi dalam jangka pendek.
Namun dalam jangka menengah, dunia akan mencermati apakah Inggris mampu mempertahankan stabilitas politik dan ekonomi, atau justru kembali memasuki siklus turbulensi yang telah menghantui negeri itu sejak Brexit.
Penulis: Harry Tanoso, Editor in Chief Pasardana.id (Dari berbagai sumber)



