pasar modal indonesia|Self-Regulatory Organizations (SRO)|PT Bursa Efek Indonesia (BEI)|PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI)|PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)|Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Pasar Modal Diuji Badai Global, SRO dan OJK Bersatu Perkuat Reformasi Transparansi untuk Tingkatkan Kepercayaan Investor

Oleh: Harry

18 Juni 2026, 15:54
Pasar Modal Diuji Badai Global, SRO dan OJK Bersatu Perkuat Reformasi Transparansi untuk Tingkatkan Kepercayaan Investor

foto: dok. BEI

Pasardana.id - Pada hari ini, Rabu (17/6), Self-Regulatory Organizations (SRO), yaitu PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan dua forum strategis, yaitu “Diskusi Sinergi dalam Menjaga Stabilitas dan Resiliensi Pasar Modal Indonesia” serta “Capital Market Insight: Pengaturan Buyback dan Market Update”, sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi pasar, menjaga stabilitas, dan mempercepat reformasi pasar modal Indonesia.

Forum “Diskusi Sinergi dalam Menjaga Stabilitas dan Resiliensi Pasar Modal Indonesia” diselenggarakan pada pagi hari dan mempertemukan regulator dan SRO dengan perwakilan asosiasi di lingkungan pasar modal, perwakilan manajer investasi, dan para pelaku industri untuk menyampaikan progres reformasi transparansi yang tengah dijalankan pasar modal Indonesia.

Sedangkan forum “Capital Market Insight: Pengaturan Buyback dan Market Update” diadakan pada sesi siang dengan perwakilan dari Perusahaan Tercatat untuk menyampaikan perkembangan pasar dan kinerja perusahaan tercatat.

Sesi pagi ini diawali dengan keynote speech oleh Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Khoirul Muttaqien, serta pemaparan dari Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Henry Rialdi, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Direktur KPEI Antonius Herman Azwar, dan Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat.

Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Khairul Muttaqien, menegaskan bahwa OJK terus memperkuat integritas dan daya saing pasar modal Indonesia melalui agenda reformasi yang dijalankan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Reformasi tersebut mencakup peningkatan transparansi data kepemilikan saham, penguatan klasifikasi investor yang lebih granular, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15%, serta penguatan pengawasan dan penegakan hukum di pasar modal.

Menurut Khairul, reformasi ini menjadi keniscayaan untuk memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dan meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Dalam sesi pemaparan pagi, BEI menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia masih menunjukkan fundamental yang kuat meskipun menghadapi tekanan eksternal yang cukup besar.

Setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada level 9.134,70 pada Januari 2026 lalu, pasar modal mengalami volatilitas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik, termasuk dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta rebalancing indeks global.

Meskipun demikian, aktivitas dan resiliensi pasar modal tetap terjaga.

Hingga 12 Juni 2026, rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp24,7 triliun dengan jumlah investor pasar modal telah melampaui 28 juta investor dan investor saham mencapai 9,8 juta investor.

Dari sisi perusahaan tercatat, mayoritas perusahaan juga tetap membukukan kinerja keuangan yang positif dengan sekitar 80% perusahaan tercatat mencatatkan laba pada kuartal pertama 2026.

Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa kondisi pasar saat ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kepercayaan investor dan mempercepat reformasi pasar modal.

"Di tengah dinamika pasar global yang penuh tantangan, fondasi pasar modal Indonesia tetap kuat. Likuiditas pasar terjaga, partisipasi investor domestik terus meningkat, dan mayoritas perusahaan tercatat tetap menunjukkan kinerja yang positif. Karena itu, sinergi antara regulator, SRO, pelaku industri, dan investor menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia ke depan," ujar Jeffrey, seperti dilansir dalam siaran pers, Kamis (18/6).

Direktur KPEI, Antonius Herman Azwar menambahkan, bahwa konektivitas infrastruktur pasar modal secara luas dengan lembaga keuangan baik domestik dan global berperan penting dalam mendorong pendalaman pasar dan peningkatan aktivitas transaksi.

Selain untuk efisiensi, penguatan konektivitas juga menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem pasar modal yang lebih terintegrasi, likuid, dan kompetitif dengan pasar global.

“KPEI melalui perannya sebagai Central Counterparty (CCP), memastikan pengelolaan risiko telah sesuai dengan standar internasional dan pengelolaan collateral dilakukan secara terintegrasi sehingga dapat meningkatkan keamanan dan kepastian penyelesaian transaksi dalam rangka menjaga kepercayaan investor. KPEI juga melakukan berbagai pengembangan bisnis untuk menyediakan produk dan layanan penunjang yang dapat diintegrasikan dengan pasar global,” ujar Antonius.

Pada sesi diskusi yang sama, Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat menyampaikan, "Resiliensi pasar modal Indonesia tidak terlepas dari kekuatan dan kepercayaan basis investor domestik yang tetap terjaga. Hingga 12 Juni 2026, jumlah investor yang tercatat di KSEI telah mencapai 28,3 juta, dengan kepemilikan aset yang didominasi investor lokal. KSEI berkomitmen untuk senantiasa memperkuat transparansi dan kualitas data kepemilikan saham agar lebih granular dan andal, sebagai bagian dari dukungan untuk Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal yang dijalankan bersama OJK dan SRO."

Sementara itu, acara “Capital Market Insight: Pengaturan Buyback dan Market Update” pada siang hari dibuka oleh Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian Sihar Manullang.

Acara ini menghadirkan pemaparan mengenai perkembangan pasar modal terkini, serta kebijakan pembelian kembali saham (buyback) dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan oleh Asisten Direktur Senior pada Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasoloan Hutajulu, Asisten Direktur Senior pada Departemen Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik OJK Sri Sulastri, dan Pjs. Kepala Divisi Riset BEI Heidy Ruswita Sari.

Pada forum Capital Market Insight, BEI juga menegaskan pentingnya pemanfaatan kebijakan buyback sebagai salah satu alternatif strategi korporasi yang dapat digunakan perusahaan tercatat dalam menghadapi dinamika pasar.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Sihar Manullang menyampaikan, bahwa kebijakan buyback memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola struktur permodalan sekaligus menyampaikan sinyal positif mengenai keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

"Kebijakan buyback merupakan salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk memperkuat kepercayaan investor dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Melalui forum ini, kami berharap perusahaan tercatat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai implementasi kebijakan tersebut sekaligus mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan prospek pasar modal Indonesia," ujar Kristian.

Melalui kedua forum tersebut, BEI bersama OJK dan SRO menegaskan komitmen untuk terus memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar, meningkatkan transparansi, mempercepat reformasi pasar modal, serta menjaga stabilitas dan resiliensi pasar modal Indonesia sebagai salah satu pilar penting pembiayaan pembangunan nasional.

Berita Terkini

See More