Strategi KAI Targetkan Penurunan Emisi 166 Ribu Ton Karbondioksida
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id - PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki strategi yang dirancang untuk mendukung target emisi nol bersih atau Net Zero Emission (NZE).
Rencana dekarbonisasi PT KAI ini dengan menargetkan pengurangan emisi sebanyak 166.873 ton karbon dioksida.
Adapun target tersebut dihitung berdasarkan nilai acuan emisi awal sebesar 647.785 ton karbon dioksida ekivalen.
Strategi jangka panjang korporasi dijelaskan oleh Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, di Jakarta pada Kamis (11/6) kemarin.
“Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi_ Net Zero Emission_, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang,” ujar Anne.
Dalam kesempatan yang sama, Vice President of Sustainability KAI, Tria Mutiari Melian menjelaskan mengenai kontribusi dekarbonisasi.
Dalam kajian menunjukkan moda kereta api hanya menyumbang satu persen dari total emisi sektor transportasi.
Sementara itu, sumbangan emisi dari kendaraan darat nasional tercatat mendominasi hingga mencapai angka 89 persen.
KAI juga terus memperluas jaringan jalur rel kereta bertenaga listrik yang kini telah mencapai 1.038,7 kilometer.
Layanan ini mencakup Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek, serta Whoosh.
KAI juga menerapkan sertifikasi berupa Green Building EDGE pada area stasiun, depo, serta kantor.
Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan kereta api.
Pemanfaatan bahan bakar biodiesel dikembangkan dari B40 pada 2025 menuju B50 pada tahun 2026.
Selain itu, KAI memasang panel surya berkapasitas 3.435,5 kWp pada 66 titik lokasi operasional.
Perusahaan juga telah menanam sebanyak 107.757 pohon di wilayah kerja sepanjang tahun 2021 hingga 2025.
“Sebagai tulang punggung transportasi massal nasional, KAI memiliki peran penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang,” ujar Tria.
LRT Jabodebek memproduksi emisi sebanyak 15 gram karbon dioksida ekivalen per penumpang setiap kilometer.
Sedangkan armada Kereta Api Antarkota melepaskan emisi karbon sebesar 16,43 gram untuk jarak yang sama.
Project Director Kynergy Consulting, Rekyan Eckersley, juga menyebut dukungan teknis penyusunan strategi PT KAI oleh Kemitraan strategis yang didukung penuh oleh program UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT).
“Kereta api adalah moda dengan emisi yang relatif rendah. Memperkuat kapasitas dan daya tarik layanannya menjadi bagian krusial dari peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional Indonesia dalam jangka panjang dan kami bangga mendampingi KAI memperkuat langkah strategis tersebut,” kata Rekyan.
Sedangkan, untuk upaya menyukseskan program transisi energi juga ditegaskan oleh Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya.
Kata dia, kajian analisis transisi dari Kereta Rel Diesel (KRD) menuju sistem kereta listrik juga dilakukan.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan internasional menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan transportasi rendah karbon. Kereta api memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus mendukung mobilitas masyarakat yang semakin efisien,” ujar Wisnu.




