Berkah Hilirisasi, Citra Borneo Tumbuhkan Laba Bersih 11,57 Persen jadi Rp45 M
Oleh: Issa

foto: dok. Citra Borneo
Pasardana.id - Laba bersih PT Citra Borneo Utama Tbk (IDX: CBUT) tumbuh 11,57% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026. Angkanya menjadi Rp45 miliar.
Dalam acara Public Expose yang digelar Kamis (11/6/2026), manajemen Citra Borneo memaparkan bahwa laba bersih perseroan naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41 miliar.
Pertumbuhan laba ini mengonfirmasi keberhasilan strategi efisiensi dan peningkatan kualitas margin perseroan.
Direktur Utama Citra Borneo Rorry Christian Tobing mengungkapkan bahwa meskipun pendapatan perseroan mengalami koreksi tipis sebesar 0,53% menjadi Rp3.377 miliar pada kuartal pertama tahun ini, kualitas laba perusahaan terbukti jauh lebih sehat.
"Penurunan tipis penjualan pada Q1 2026 lebih disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian pasar akibat situasi geopolitik. Namun, efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02% menjadi Rp89 miliar," ujar Rorry.
Pertumbuhan positif pada awal tahun ini melanjutkan tren gemilang sepanjang tahun 2025.
Pada tahun lalu, penjualan Citra Borneo melonjak signifikan sebesar 43,05% menjadi Rp13.970 miliar.
Berkat perbaikan refining margin dan kontribusi kuat dari produk minyak goreng kemasan dengan merek "Hanau", laba usaha perseroan di tahun 2025 meroket hingga 255,16% menjadi Rp366 miliar.
Menatap sisa tahun 2026, Citra Borneo tengah menyiapkan motor pertumbuhan baru melalui penyelesaian pabrik Refinery & Fractionation II yang memiliki kapasitas 1.500 Tons Per Day (TPD).
Saat ini, fasilitas produksi tersebut sedang memasuki tahap commissioning yang dijadwalkan rampung pada Juli 2026.
Kehadiran pabrik baru ini akan memperkuat fasilitas existing perseroan yang saat ini memiliki kapasitas produksi Refinery sebesar 2.500 TPD, Kernel Crushing Plant 600 TPD, dan Molding & Filling Plant sebesar 200 TPD.
Ekspansi ini dinilai sangat tepat momentumnya mengingat pemerintah melalui Kementerian ESDM akan memberlakukan kebijakan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan ini diprediksi menjadi game changer yang akan mendongkrak ketahanan pasar domestik.
"Program B50 kami nilai sebagai katalis positif. Kebijakan ini menciptakan tambahan permintaan minyak sawit di dalam negeri dan menjaga stabilitas harga, yang sangat menguntungkan bagi CBUT sebagai pemain hilir terintegrasi," tambah Rorry.
Komitmen Keberlanjutan dan ESG
Tidak hanya fokus pada profitabilitas, emiten berkode saham CBUT ini juga menunjukkan komitmen tinggi terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Hingga akhir tahun 2025, perseroan berhasil mencatatkan rekor zero fatal accident di lingkungan kerja.
Dari sisi pelestarian lingkungan, CBUT telah memanfaatkan energi terbarukan sebesar 16,9 juta Kwh dan mengantongi sertifikasi internasional terkemuka seperti RSPO-SCCS, ISPO, dan ISCC.
Manajemen juga memastikan rantai pasok kelapa sawit mereka memenuhi standar ketertelusuran yang tinggi, dengan capaian traceability to mill sebesar 100% dan traceability to plantation mencapai lebih dari 97%.
Langkah ini memperkuat posisi perseroan untuk menembus pasar global yang menuntut standar keberlanjutan ketat.




