See More

19 Mei 2026, 14:15

19 Mei 2026, 12:43

19 Mei 2026, 12:11

19 Mei 2026, 11:19

19 Mei 2026, 09:39

19 Mei 2026, 09:12
gubernur BI|Perry Warjiyo|nilai tukar rupiah|rupiah melemah
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id - Per hari Selasa (05/6/2026), nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.
Sebagaimana terpantau dari laman Bank Indonesia (BI), kurs jual 1 dolar Amerika Serikat (USD) yakni Rp17.454,84 dan kurs beli 1 USD adalah Rp17.281,16.
Gubernur BI Perry Warjiyo pun menjelaskan faktor yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah ini.
Menurut dia, saat ini nilai tukar rupiah undervalued (kondisi ketika suatu mata uang memiliki nilai tukar lebih rendah dari seharusnya).
Namun, dirinya menyatakan, bahwa pemerintah yakin nilai tukar rupiah akan stabil dan menguat ke depannya.
Kata dia, ada dua faktor yang membuat nilai tukar rupiah melemah dalam jangka pendek.
“Kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua, yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman," ujarnya dalam konferensi persnya, Selasa (05/6).
Dirinya kemudian merinci faktor global yang menyebabkan tekanan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek adalah harga minyak yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang juga meningkat tinggi, demikian juga dolar AS yang menguat.
Tak hanya itu, melemahnya rupiah juga terjadi karena terjadinya pelarian modal dari emerging market (pasar negara berkembang), termasuk Indonesia.
Sementara, faktor musiman, seperti pada bulan April-Juni permintaan dolar tinggi sehingga berkontribusi pada melemahnya rupiah.
"Memang secara musiman, April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dolarnya tinggi, ada untuk pembayaran repatriasi (proses pengembalian akumulasi penghasilan berupa harta maupun aset dari luar negeri ke Indonesia), dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji," tukas Perry.