Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|pasar modal indonesia|Bursa Efek Indonesia|net sell asing|sentimen global

IHSG Terpuruk, Asing Kabur dan Sentimen Global Jadi Biang Kerok

Oleh: Harry

21 Mei 2026, 16:37
IHSG Terpuruk, Asing Kabur dan Sentimen Global Jadi Biang Kerok

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan beruntun sepanjang sepekan terakhir.

Bahkan pada perdagangan terbaru (hingga artikel ini ditulis, Kamis, 21/5), IHSG sempat ambles lebih dari 3,5% dan menyentuh level psikologis yang memicu kepanikan investor domestik maupun asing.

Kondisi ini membuat pasar modal Indonesia menjadi salah satu bursa dengan performa terburuk di kawasan Asia dalam beberapa hari terakhir.

Dari pengamatan Pasardana.id, tekanan terhadap IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang datang secara bersamaan.

Mulai dari keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI, aksi jual investor asing, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang mengguncang pasar saham nasional.

Asing Gencar Net Sell, Likuiditas Pasar Terganggu

Diketahui, salah satu penyebab terbesar pelemahan IHSG adalah derasnya arus keluar dana asing (capital outflow).

Investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran terutama pada saham-saham big caps perbankan dan sektor siklikal seperti BBCA, BMRI, dan ASII.

Analis Phintraco Sekuritas menilai, tekanan jual asing terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap risiko pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Pelemahan rupiah dan naiknya premi risiko fiskal Indonesia turut memperburuk sentimen pasar.

Selain itu, keluarnya beberapa saham dari indeks MSCI juga memicu tekanan tambahan karena banyak fund manager global melakukan rebalancing portofolio secara otomatis.

Kondisi ini menyebabkan tekanan jual meningkat dalam waktu singkat.

Geopolitik dan Suku Bunga Global Menekan Bursa

Dari eksternal, pasar global sedang dihantui ketidakpastian geopolitik, terutama memanasnya konflik di Timur Tengah serta sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Akibatnya, pasar saham negara berkembang mengalami tekanan besar.

Dari pantauan Pasardana.id, banyak pengamat pasar modal sekaligus ekonom senior menilai situasi ini memperlihatkan pasar Indonesia masih sangat sensitif terhadap sentimen global.

Ketika risk appetite investor menurun, IHSG menjadi salah satu indeks yang paling cepat terkena dampaknya.

Krisis Kepercayaan Mulai Muncul?

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Agus Sartono, menilai anjloknya IHSG tidak sekadar koreksi biasa, tetapi juga menjadi alarm menurunnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan transparansi pasar modal Indonesia.

Menurutnya, pasar membutuhkan kepastian regulasi, keterbukaan informasi, dan stabilitas kelembagaan agar kepercayaan investor dapat pulih kembali.

Ia juga menyoroti pentingnya kualitas fundamental emiten, terutama kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat di tengah tekanan ekonomi global.

Sementara itu, analis CGS International Sekuritas melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek karena sentimen negatif belum sepenuhnya mereda.

Investor disarankan lebih selektif memilih saham dan menghindari aksi spekulatif berlebihan.

Peluang Rebound Masih Ada

Meski tekanan masih besar, sebagian pelaku pasar menilai koreksi tajam ini juga membuka peluang akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat yang sudah mengalami diskon harga cukup dalam.

Seperti diketahui, sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, bahkan sempat menyebut kondisi pasar saat ini sebagai momentum “serok-serok” bagi investor jangka panjang, dengan asumsi fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Namun demikian, arah IHSG ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan global, arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Berita Terkini

See More