AI Berbalik Jadi Ancaman, Industri Perbankan Global Waspadai Ledakan Fraud Canggih
Oleh: Corri

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Lembaga keuangan global dan Asia Pasifik (APAC) semakin khawatir terhadap ancaman fraud berbasis kecerdasan buatan (AI).
Survei terhadap 1.440 pemimpin bidang manajemen fraud, anti-money laundering (AML), serta risiko dan kepatuhan di 25 negara, termasuk 340 responden dari APAC, menunjukkan 84% responden menilai agentic AI sebagai kerentanan terbesar dalam satu tahun ke depan.
Sebanyak 88% responden menilai AI telah membuat modus fraud semakin canggih, 60% memperkirakan perbankan berbasis AI akan mengurangi efektivitas metode pencegahan tradisional, dan 72% meyakini akan semakin sulit membedakan aktivitas AI yang sah dan yang berbahaya ketika agen AI mulai umum digunakan dalam transaksi.
CEO BioCatch, Gadi Mazor, mengatakan AI mengubah cara nasabah berinteraksi dengan lembaga keuangan sekaligus mengubah cara pelaku kejahatan beroperasi.
Karena itu, industri perlu beralih dari verifikasi identitas statis menuju pemahaman perilaku dan niat nasabah secara real-time.
“AI mulai mengubah cara nasabah berinteraksi dengan situs e-commerce dan lembaga keuangan, serta akan mengubah cara pelaku kejahatan melakukan fraud dan kejahatan keuangan lainnya,” ujar Gadi Mazor, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (10/6).
“Seiring interaksi digital yang terus tumbuh semakin cepat, otomatis, dan semakin digerakkan oleh agen, kita perlu bergerak melampaui pemeriksaan identitas yang statis menuju pemahaman yang lebih mendalam dan real-time terhadap terhadap perilaku, niat, dan kepercayaan,” lanjutnya.
Survei yang dilakukan atas penugasan BioCatch itu juga menunjukkan meningkatnya ancaman fraud di APAC.
Sebanyak 81% responden menyatakan upaya fraud di institusinya meningkat, 78% melaporkan kerugian akibat fraud bertambah, dan 80% mengaku sangat khawatir terhadap semakin cepatnya aktivitas kejahatan tersebut.
Hampir separuh pemimpin perbankan APAC (49%) menyebut institusinya mengalami kerugian lebih dari US$10 juta per tahun akibat fraud.
Bahkan, 22% melaporkan kerugian di atas US$25 juta, 8% lebih dari US$50 juta, dan 2% melampaui US$100 juta.
Dampaknya juga dirasakan nasabah.
Sebanyak 46% responden menyebut kerugian akibat authorized fraud dan penipuan yang dialami nasabah melebihi US$10 juta per tahun, termasuk 14% yang mencapai lebih dari US$25 juta.
Survei juga menunjukkan tingginya dukungan terhadap kolaborasi antarbank.
Sebanyak 92% responden APAC menilai pertukaran intelijen secara _real-time_terkait rekening penerima akan meningkatkan kemampuan bank mencegah penipuan, sementara 93% meyakini berbagi informasi antarbank efektif menekan fraud dan kejahatan keuangan.
Temuan penting lainnya di APAC menunjukkan 79% institusi telah menghadapi serangan berbasis agentic AI.
Sebanyak 98% responden mengukur tingkat kehilangan nasabah akibat pengalaman fraud, dengan 52% menjadikannya faktor utama dalam keputusan investasi.
Namun, penerapan kontrol yang terlalu ketat juga memicu friksi.
Sebanyak 67% pemimpin perbankan mengakui pendekatan pencegahan fraud menyebabkan kehilangan nasabah.
Dari jumlah tersebut, 53% disebabkan kerugian yang tidak diganti dan 46% akibat proses yang terlalu rumit.
Di Indonesia, tingkat risiko fraud relatif lebih moderat dibandingkan rata-rata APAC.
Sebanyak 58% responden melaporkan peningkatan upaya fraud, 61% mencatat kenaikan kerugian, dan 63% mengaku sangat khawatir terhadap percepatan aktivitas fraud, lebih rendah dibanding rata-rata APAC masing-masing sebesar 81%, 78%, dan 80%.
Meski demikian, kemampuan pencegahan fraud di Indonesia terus berkembang.
Lebih dari 90% institusi telah menggunakan atau berencana menerapkan sistem pengendalian fraud berbasis AI.
Sebanyak 41% mampu mendeteksi rekening penampung dana hasil kejahatan (money mule account) sebelum menerima transaksi pertama, lebih dari dua kali rata-rata global.
Selain itu, 67% institusi secara aktif mengukur dan melaporkan tingkat kehilangan nasabah yang terkait dengan pengalaman fraud dan penipuan.




