See More

22 Mei 2026, 02:26

22 Mei 2026, 02:03

22 Mei 2026, 01:41

21 Mei 2026, 19:44

21 Mei 2026, 19:29

21 Mei 2026, 17:55
PT Kimia Farma Tbk|KAEF|kinerja perusahaan
Oleh: Corri

Foto : istimewa
Pasardana.id - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (Perseroan) (IDX: KAEF) menyampaikan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode kuartal I tahun 2026 yang mencerminkan capaian kinerja keuangan yang luar biasa.
Setelah melewati periode menantang dalam tiga tahun terakhir, Perseroan secara resmi berhasil mencatatkan pembalikan kinerja (turnaround) dengan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp123,6 miliar atau tumbuh 197,79% dibandingkan dengan kuartal I tahun 2025 dimana Perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp126,4 miliar.
Melansir siaran pers Perseroan, Kamis (30/4) disebutkan, Perbaikan kinerja Perseroan terlihat jelas pada tiga pilar utama laporan keuangan Kuartal I 2026 sebagai berikut:
-Laba Kotor (Gross Profit): Tumbuh 11,06% menjadi Rp824,8 miliar dibanding Rp742,6 miliar di kuartal I 2025. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi beban pokok penjualan yang berhasil ditekan secara signifikan sebagai hasil dari transformasi rantai pasok.
-EBITDA: Perseroan mencatatkan performa operasional yang solid dengan EBITDA mencapai Rp153,8 miliar atau tumbuh 61,29% dibanding Rp95,4 miliar di kuartal I 2025. Hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang kuat dari aktivitas operasional inti.
-Laba Bersih (Net Income): Keberhasilan mencetak laba bersih Rp123,6 miliar di awal tahun 2026 dengan pertumbuhan 197,79% mengakhiri tren negatif kerugian tahunan dan menjadi fondasi kokoh untuk mencapai target full-year yang optimis.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menyatakan bahwa kunci utama dari pemulihan ini adalah keberhasilan restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien.
Salah satu program efisiensi yang berhasil dilakukan oleh Perseroan adalah melakukan penataan Sumber Daya Manusia (SDM) dan struktur organisasi dengan tetap memenuhi aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta prinsip good corporate governance.
Dukungan penuh dari Danantara Asset Management dan Bio Farma selaku pemegang saham Perseroan juga menjadi salah satu enabler utama dalam proses transformasi yang dijalankan Perseroan.
Selama kuartal I 2026, peran Danantara melalui Bio Farma sangat krusial dalam memberikan dukungan pendanaan strategis yang menjaga stabilitas likuiditas perusahaan dan mempercepat proses restrukturisasi utang, sehingga beban bunga dapat dikelola secara lebih optimal.
Dalam rangka menjaga kelangsungan bisnis dan mendorong pertumbuhan yang lebih sehat, Perseroan terus menjalankan transformasi secara menyeluruh di seluruh lini usaha.
Transformasi tersebut difokuskan pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.
Sejalan dengan strategi tersebut, Perseroan juga melakukan penajaman fokus bisnis dengan mengutamakan pengembangan dan pemasaran produk dengan margin yang lebih tinggi, serta tetap berkomitmen untuk menyediakan obat untuk mendukung program pemerintah guna menjaga aksesibilitas layanan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, transformasi digital terus berjalan sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan kualitas layanan, mencakup penguatan sistem operasional, supply chain, serta integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
“Capaian di kuartal I 2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa langkahlangkah transformatif yang kami ambil kini mulai membuahkan hasil. Kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan demi memastikan Kimia Farma kembali menjadi kebanggaan industri kesehatan nasional,” ujar Djagad Prakasa Dwialam.
Namun demikian, dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian, termasuk dampak konflik geopolitik dan perlambatan perekonomian dunia, telah mendorong kenaikan harga bahan baku serta tekanan pada nilai tukar rupiah.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelemahan rupiah memberikan tantangan tersendiri bagi industri farmasi, termasuk Perseroan, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor dan berdenominasi mata uang asing.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi serta menekan margin, khususnya pada produk-produk dengan struktur harga yang lebih rigid, seperti obat program pemerintah.
Perseroan telah mengantisipasi dinamika tersebut melalui sejumlah langkah strategis yang terukur.
Perseroan terus memperkuat pengelolaan biaya secara menyeluruh, baik pada komponen harga pokok produksi maupun biaya operasional, guna menjaga efisiensi dan daya saing.
Di sisi lain, Perseroan terus melakukan optimalisasi portofolio produk dengan mendorong kontribusi produk-produk dengan margin yang lebih sehat serta memperkuat posisi di segmen yang memiliki fleksibilitas harga.
Selain itu, Perseroan secara aktif melakukan pengelolaan risiko nilai tukar melalui pengaturan waktu pembelian bahan baku, diversifikasi pemasok, serta upaya peningkatan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Perseroan untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
Ke depan, Perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara ketahanan operasional dan keberlanjutan pertumbuhan, dengan tetap memastikan ketersediaan produk bagi masyarakat serta menjaga kinerja keuangan yang sehat di tengah dinamika global yang sedang terjadi.
Perseroan yakin dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ini di kuartal-kuartal berikutnya pada 2026 dan optimis dapat terus memperkuat posisinya di industri kesehatan nasional melalui strategi bisnis yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan, serta didukung oleh inovasi produk dan layanan farmasi yang terintegrasi dalam rangka mendukung ketahanan kesehatan nasional.