Konsumen Makin Pesimis, Belanja Mulai Diperketat! Mirae Asset Sebut Sektor Ini Diprediksi Meledak di 2026!

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti tren pelemahan kepercayaan konsumen yang berlanjut dalam tiga bulan terakhir, sebagai sinyal meningkatnya kehati-hatian rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan global.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat turun ke level 122,9 pada Maret 2026 dari 125,2 pada bulan sebelumnya, menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir.

Meski masih berada di atas ambang optimisme 100, tren penurunan ini dinilai mencerminkan perubahan ekspektasi konsumen terhadap prospek ke depan, bukan sekadar kondisi saat ini.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai, pelemahan ini mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Penurunan terdalam tercatat pada komponen ekspektasi aktivitas usaha yang turun 5,4 poin, diikuti ekspektasi ketersediaan lapangan kerja turun 3,7 poin, serta ekspektasi pendapatan turun 3,0 poin.

"Penurunan IKK selama tiga bulan berturut-turut mencerminkan ekspektasi konsumen ke depan yang cenderung terus melemah. Namun, selama IKK masih berada di atas 100, kami menilai konsumsi rumah tangga tetap cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan, meskipun dengan komposisi yang semakin defensif. Pengeluaran akan lebih terkonsentrasi pada kebutuhan primer, sementara pembelian barang tahan lama dan diskresioner cenderung tertahan," ujar Novani, dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4).

Pelemahan lebih tajam terjadi pada kelompok menengah ke atas dengan pengeluaran bulanan Rp2,1–4 juta dan di atas Rp5 juta, yang secara historis lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi makro.

Di sisi lain, peningkatan porsi konsumsi pada kelompok berpenghasilan rendah mengindikasikan tekanan daya beli yang mulai dirasakan segmen rentan.

"Dinamika pasar tenaga kerja menjadi faktor paling menentukan saat ini. Tekanan tersebut diperparah oleh inflasi energi dan pelemahan rupiah yang mengerek harga barang impor, sehingga daya beli riil rumah tangga cenderung semakin tergerus. Pemulihan akan sangat bergantung pada stabilitas lapangan kerja, terkendalinya inflasi, serta kepastian arah kebijakan fiskal," tambah Novani.

Di sisi korporasi, Mirae Asset Sekuritas juga melihat potensi pemulihan pada sektor komoditas seiring kuatnya permintaan hilirisasi nikel.

Hal ini tercermin dari peningkatan rekomendasi terhadap PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) menjadi Buy dengan target harga Rp7.400 per saham.

Sementara itu, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan, menilai kinerja perseroan mulai menunjukkan perbaikan yang solid.

Pendapatan kuartal IV-2025 tumbuh 17,8% secara tahunan menjadi USD285 juta, sementara laba bersih sepanjang 2025 meningkat 31,7% menjadi USD76 juta.

"Sektor nikel berada dalam fase yang menarik. INCO diuntungkan oleh premi bijih nikel yang masih tinggi dan diversifikasi pendapatan yang semakin kuat. Kami melihat 2026 sebagai tahun pembuktian bagi perseroan, dengan margin EBITDA diproyeksikan mencapai 33,3% dari 21,4% pada 2025," ujar Farras.

Ke depan, lanjutnya, volume penjualan bijih nikel diproyeksikan melonjak 304% secara tahunan menjadi 9,4 juta wmt, didukung permintaan dari proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) dan potensi peningkatan persetujuan RKAB.

Mirae Asset sendiri memproyeksikan EBITDA sebesar USD478 juta atau tumbuh 126% dan laba bersih USD242 juta atau melesat 218% secara tahunan.

"Katalis utama yang perlu dicermati investor adalah kepastian persetujuan RKAB yang akan membuka ruang peningkatan volume penjualan bijih, serta perkembangan realisasi proyek HPAL sebagai motor permintaan jangka menengah," tutup Farras.