ANALIS MARKET (04/3/2026): IHSG Masih Berpotensi Kembali Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian BNI Sekuritas menyebutkan, IHSG kemarin (03/3) ditutup turun 0.96%, disertai dengan net sell asing sebesar 1.17 Triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah ANTM, BBRI, AADI, MDKA dan INCO.

Sementara itu, Indesk-indeks saham Wall Street kembali mengalami penurunan pada (3/3), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan antara AS dan Iran. Meskipun sempat turun signifikan, pernyataan Presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kepanikan investor menjelang penutupan pasar. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,83%, S&P 500 terkoreksi 0,94%, dan Nasdaq Composite turun 1,02%. Pada Selasa sore, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menegaskan bahwa AS akan memastikan arus energi dunia tetap berjalan. Pernyataan tersebut muncul setelah Komandan Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur transit minyak mentah paling vital di dunia, dan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas. Selat Hormuz memegang peran krusial karena sekitar 20% konsumsi minyak global melewati jalur tersebut. Kedutaan Besar AS di Riyadh dilaporkan terkena serangan drone saat Iran meningkatkan serangan di kawasan. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Kelompok Hizbullah yang didukung Teheran juga melancarkan serangan rudal dan drone ke Tel Aviv. Di sisi lain, kekhawatiran apakah negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab mampu terus menahan gelombang serangan rudal dan drone Iran. Saham-saham teknologi besar seperti Nvidia kembali melemah. Saham produsen memori AS juga tertekan, mengikuti penurunan tajam saham chip memori di Korea Selatan. Sementara itu, saham Blackstone turun 2% setelah Financial Times melaporkan bahwa dana kredit swasta perusahaan tersebut mengalami arus keluar bersih sebesar US$1,7 miliar pada kuartal I.

Di sisi lain, Bursa Asia kompak melemah pada perdagangan Selasa (3/3), seiring konflik Iran yang memasuki hari keempat tanpa tanda-tanda mereda. Harga minyak melanjutkan kenaikan setelah muncul laporan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz. Minyak mentah AS naik ke level USD 71,33 per barel, sementara Brent menjadi USD 78,07 per barel. Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang tahun lalu. Angka tersebut setara dengan hampir sepertiga total ekspor minyak laut dunia, menjadikan jalur tersebut sangat vital bagi perdagangan energi global. Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 7,2%%, memimpin pelemahan di Asia. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 3,1% dan Topix melemah 3,2%. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia melemah 1,3%, Hang Seng Hong Kong turun 1,1%, Taiex Taiwan berkurang 2,2% dan di daratan China kompak turun lebih dari 1%.

Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, dalam riset Rabu (04/3), Fanny Suherman, CFP selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas menyebutkan, “IHSG masih berpotensi melemah kembali dengan tes support 7900. Hati-hati jika break 7900, potensi koreksi hingga 7450. Diperkirakan Support IHSG: 7650-7750 dan Resist IHSG: 8000-8050.”

Selanjutnya disebutkan beberapa saham yang bisa menjadi pilihan Trading Idea hari ini, yaitu: AMRT, MEDC, PGAS, BUVA, ASII, dan KLBF.

Berikut ini rekomendasi trading sahamnya;

AMRT Buy on Weakness dengan area beli di 1560-1600, cutloss di bawah 1540. Target dekat di 1640-1670.

MEDC Spec Buy dengan area beli di 1860-1900, cutloss di bawah 1850. Target dekat di 1920-1990.    

PGAS Spec Buy dengan area beli di 2320-2400, cutloss di bawah 2240. Target dekat di 2450-2500.

BUVA Spec Buy dengan area beli di 1200-1240, cutloss di bawah 1200. Target dekat di 1300-1360.

ASII Buy on Weakness dengan area beli di 6175-6275, cutloss di bawah 6050. Target dekat di 6425-6500.

KLBF Buy on Weakness dengan area beli di 1020-1035, cutloss di bawah 1020. Target dekat di 1045-1085.       

Disclaimer on