ANALIS MARKET (04/3/2026): Antisipasi Peningkatan Volatilitas pada Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) melanjutkan pelemahannya pada sesi perdagangan kemarin.

Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 20 bp ke level 5,94%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 6 bp menjadi 6,51%.

Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 8 bp ke level 6,54%.

Level yield curve 10-tahun saat ini telah melebihi batas atas weekly estimated range di kisaran 6,25%-6,51%, mengindikasikan potensi entry point yang menarik.

Kenaikan tajam pada tenor 5 tahun menunjukkan sensitivitas yang meningkat di bagian depan kurva imbal hasil di tengah pergeseran ekspektasi suku bunga sebagai respons terhadap kenaikan ekspektasi inflasi.

Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp52,9 triliun kemarin, lebih tinggi dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp19,7 triliun.

FR0108 dan FR0107 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp32,2 triliun dan Rp3,3 triliun.

Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp10.7 triliun.

Data DJPPR menunjukkan total incoming bid pada lelang SUN kemarin mencapai Rp50,9 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang SUN sebelumnya tanggal 18 Februari lalu yang mencapai Rp63,1 triliun.

Dari seri yang ditawarkan, Pemerintah menetapkan total amount awarded sebesar Rp34,1 triliun, di atas target indikatif Rp 33,0 triliun.

Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah tipis sebesar 0,02%, bergerak dari level Rp16.868/US$ di hari Senin menjadi Rp16.872/US$ kemarin.

Sementara itu, kondisi tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih belum mereda akan menjadi sentimen negatif.

Tensi tersebut diperkirakan akan menyebabkan ekspektasi meningkatnya laju inflasi dan meningkatkan minat investor terhadap instrumen-instrumen safe haven.

CME FedWatch Tools terkini menunjukkan para market participant mengantisipasi pemangkasan FFR yang lebih lambat.

Per Rabu (04/3) pagi ini, indikator global masih menunjukkan sentimen yang cenderung negatif bagi pasar obligasi.

Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing meningkat sebesar 1bp dari hari sebelumnya menjadi 3,63% dan 4,06%.

Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia meningkat sebesar 1bp menjadi 87bp.

“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi peningkatan volatilitas pada harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0103, FR0108, FR0106,” terang Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Rabu (04/3).