Ada Konflik di TimTeng, Penerbangan Umrah Dihentikan Sementara

Foto : istimewa

Pasardana.id – Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, membuat penerbangan umrah ke tanah Arab Saudi jadi terganggu.

Hal tersebut disampaikan Angkasa Pura (AP) Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).

Meski begitu, AP Indonesia Cabang BIM masih terus melayani kepulangan atau evakuasi jamaah umrah asal Provinsi Sumatera Barat yang sedang, atau masih berada di Jeddah, Arab Saudi.

Terbaru, instansi tersebut berhasil memulangkan jamaah umrah pada tanggal 5 dan 8 Maret 2025.

"Sejak 3 sampai dengan 18 Maret kita tidak beroperasi (pesawat carter)," kata General Manager Angkasa Pura II Kantor Cabang BIM, Dony Subardono di Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (12/3).

Pada 8 Maret lalu, AP setempat mencatat jamaah umrah yang tiba di BIM berasal dari beberapa wilayah yakni Provinsi Sumatera Barat, Batam, Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Jawa Tengah.

"Jadi, setibanya di BIM jamaah umrah tadi kembali melanjutkan penerbangan ke daerah asal mereka," ucap dia.

Dirinya juga mengiyakan kalau pada 23 Maret 2026 akan ada jamaah umrah yang berencana bertolak ke Tanah Suci.

Namun, untuk kepastian keberangkatan AP Cabang BIM terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak terkait khususnya untuk memastikan aspek keamanan penerbangan.

"Itu rencananya ya, nanti kita lihat perkembangan dan situasinya pada 18 Maret 2026 dulu," ujar Dony.

Lebih lanjut Dony menyampaikan, peningkatan eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut berimbas langsung kepada layanan penerbangan internasional, khususnya penerbangan untuk jamaah umrah asal Ranah Minang.

Sebelumnya, pada Selasa (10/3) kemarin, Wakil Menteri Haji dan Umroh, Dahnil Anzar mengungkapkan, bahwa sekitar 2.000 jamaah umrah Indonesia sempat mengalami kendala kepulangan dari Arab Saudi akibat masalah penerbangan, terutama pada rute yang menggunakan transit.

Menurut Dahnil, jamaah yang mengalami penundaan kepulangan umumnya merupakan penumpang dengan penerbangan tidak langsung, yang ikut terdampak perang di Timur Tengah.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat jadwal perjalanan mereka terdampak ketika terjadi gangguan pada penerbangan lanjutan.

Ia menjelaskan, selain faktor rute penerbangan, tingginya harga tiket juga menjadi kendala bagi sebagian jamaah untuk segera kembali ke Tanah Air.

Akibatnya, sejumlah jamaah terpaksa menunggu sementara waktu di luar negeri sambil mencari tiket dengan harga yang lebih terjangkau.

Meski begitu, Dahnil menyebutkan, sebagian jamaah yang sempat tertahan tersebut kini telah berhasil kembali ke Indonesia.

Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan kementerian terkait serta maskapai penerbangan untuk mengantisipasi kendala serupa pada perjalanan jamaah ke depan.