ANALIS MARKET (20/2/2026): Antisipasi Peningkatan Volatilitas Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah

Foto: Ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian Fixed Income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) mencatatkan penurunan pada sesi perdagangan kemarin.

Berdasarkan data PHEI, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 7 bp ke level 5,76%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 7 bp ke level 6,46%.

Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 7 bp menjadi 6,46%.

Level yield curve 10-tahun saat ini telah melampaui batas atas dari weekly estimated range di kisaran 6,19%-6,44%, mengindikasikan potensi attractive entry point.

Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp28,8 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp38,1 triliun.

FR0108 dan FR0109 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp4,8 triliun dan Rp4,5 triliun.

Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp2,7 triliun.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan Lending Facility sebesar 5,50%.

Keputusan tersebut mencerminkan fokus kebijakan pada stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, dengan tetap mempertahankan ruang penurunan suku bunga lebih lanjut sejalan dengan prakiraan inflasi 2026–2027 yang terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%.

Inflasi IHK Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% (yoy), sementara inflasi inti tetap terjaga pada 2,45% (yoy), mendukung fleksibilitas kebijakan moneter.

Kredit perbankan tumbuh 9,96% (yoy) pada Januari 2026, dengan DPK tumbuh 13,48% (yoy).

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 berada pada kisaran 8–12%. (Bank Indonesia)

Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah sebesar 0,06%, bergerak dari level Rp16.884/US$ di hari Rabu menjadi Rp16.894/US$ kemarin.

Adapun per Jumat (20/2) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen yang sedikit positif bagi pasar obligasi.

Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 1bp menjadi 3,65% dan 4,08%.

Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia bertahan di 82bp.

"Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi peningkatan volatilitas harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0080, FR0103, FR0108, FR0098, FR0106," terang Head of Fixed Income BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Jumat (20/2).