Gejolak The Fed: Dampak Global dan Implikasinya bagi Ekonomi Indonesia

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Ketegangan politik antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell bukan lagi sekadar retorika.

Isyarat Trump untuk mengganti Powell—bahkan sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2026—menjadi sinyal serius yang mengguncang pasar keuangan global.

Diketahui, pimpinan bank sentral AS — yang secara tradisional dijauhkan dari politisasi dan ancaman hukum — kini menjadi subjek penyelidikan pidana yang kontroversial.

Melansir CNN.com, Senin (12/1) disebutkan, Jaksa Federal telah membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell atas kesaksiannya di hadapan Kongres pada bulan Juni mengenai renovasi kantor pusat bank sentral di Washington, DC senilai $2,5 miliar.

Tindakan mengejutkan terhadap Federal Reserve yang independen ini disambut dengan pernyataan luar biasa lainnya yang diposting oleh Powell dalam sebuah video pada Minggu malam, di mana ia mengatakan, bahwa penyelidikan tersebut merupakan hasil langsung dari perjuangannya yang berkelanjutan dengan pemerintahan terkait suku bunga.

Powell mengatakan, itu adalah konsekuensi dari "ancaman dan tekanan berkelanjutan" yang lebih luas dari pemerintahan.

"Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang akan melayani publik, daripada mengikuti preferensi Presiden," kata Powell dalam sebuah pernyataan pada Minggu (11/1) malam.

Sementara itu, pasar keuangan global merespons dengan meningkatnya volatilitas, terutama di pasar obligasi dan mata uang.

Investor cenderung bersikap lebih berhati-hati sembari menanti kepastian apakah Powell akan bertahan hingga akhir masa jabatan atau digantikan lebih cepat oleh figur yang lebih sejalan dengan agenda Gedung Putih.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dinamika ini berpotensi berdampak pada arus modal asing dan pergerakan nilai tukar.

Penguatan dolar AS akibat meningkatnya ketidakpastian global dapat memberi tekanan pada mata uang emerging markets.

Pelaku pasar kini mencermati langkah lanjutan Trump serta sikap resmi pemerintah AS terhadap posisi Powell.

Pasalnya, kejelasan arah kebijakan The Fed dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasar keuangan global dalam periode penuh ketidakpastian ini.

Pengganti Powell

Di sisi lain, proses pemilihan penerus sudah berlangsung, dengan beberapa kandidat dari pemerintahan dan sektor keuangan yang tengah dipertimbangkan, dan keputusan resmi dari Trump diperkirakan akan diumumkan dalam bulan-bulan mendatang.

Diketahui, Trump dan jajaran ekonomnya telah memulai proses seleksi untuk calon penerus.

Calon yang dikaitkan sebagai kandidat kuat termasuk:

-Kevin Hassett – Kepala National Economic Council dan salah satu nama top yang dibicarakan.

-Christopher Waller – Gubernur Fed saat ini, yang dipandang berpengalaman dan bisa dipromosikan.

-Rick Rieder – Tokoh di sektor keuangan yang dipertimbangkan namun belum diwawancarai.

Trump bahkan mengindikasikan akan mengumumkan pilihan baru untuk Ketua The Fed awal tahun 2026, kemungkinan sekitar Januari atau bahkan sebelum/selama forum ekonomi global seperti Davos.

Dampak ke Indonesia: Rupiah, Pasar Modal, dan Suku Bunga

Bagi Indonesia, dinamika di The Fed hampir selalu beresonansi langsung ke pasar domestik.

-Tekanan terhadap Rupiah

Ketidakpastian di AS biasanya mendorong investor global mencari aset aman (flight to safety). Dalam skenario ini, dolar AS berpotensi menguat, memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Volatilitas rupiah bisa meningkat, terutama jika arus modal asing keluar dari pasar obligasi domestik.

-Pasar Saham Lebih Fluktuatif

Indeks saham Indonesia berisiko bergerak lebih volatil, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus dana asing. Sektor perbankan dan komoditas berpotensi terkena dampak paling awal, seiring perubahan ekspektasi suku bunga global dan nilai tukar.

-Ruang Gerak Bank Indonesia Menyempit

Bank Indonesia kemungkinan harus bersikap lebih defensif. Jika tekanan eksternal meningkat, BI akan lebih berhati-hati menurunkan suku bunga, meskipun inflasi domestik terkendali. Stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor asing tetap menjadi prioritas utama.

Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, berikut ini beberapa skenario yang perlu diantisipasi investor:

-Skenario lunak: Powell bertahan hingga akhir masa jabatan, tekanan politik mereda, pasar kembali stabil secara bertahap.

-Skenario moderat: Powell diganti lebih cepat, namun penggantinya masih kredibel dan pro-pasar—gejolak bersifat sementara.

-Skenario ekstrem: Pergantian dipandang politis dan agresif, independensi The Fed diragukan, memicu guncangan besar di pasar global dan arus modal keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut Penulis menilai, Isu pergantian Jerome Powell bukan sekadar persoalan personal atau politik domestik AS.

Ini adalah ujian besar bagi independensi bank sentral paling berpengaruh di dunia.

Bagi Indonesia, dampaknya nyata—mulai dari nilai tukar, pasar saham, hingga kebijakan moneter.

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar dan pembuat kebijakan domestik dituntut tetap disiplin, menjaga kredibilitas, dan memperkuat fondasi ekonomi agar tidak mudah terguncang oleh badai dari luar.

 

Opini pribadi Penulis – Harry Tanoso, Editor in Chief Pasardana.id