Pemerintahan Tahun Depan Berganti, Sri Mulyani Tekankan Agar Hati-Hati Kelola Utang
Pasardana.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja dengan DPR di Jakarta, Rabu (5/6), menekankan pentingnya pengelolaan utang pada tahun 2025 mendatang dengan kehati-hatian.
Pasalnya, dengan tren suku bunga yang tinggi dan nilai tukar yang dinamis, akan mempengaruhi belanja termasuk pembayaran bunga utang.
"Tadi higher for longer dan exchange rate yang mengalami tekanan pasti mempengaruhi belanja terutama pada belanja pembayaran bunga utang. Oleh karena itu, kita harus sangat hati-hati di dalam mengelola utang dalam tren seperti itu," ujarnya, dikutip Kamis (06/6).
Menkeu mengatakan, defisit APBN pada tahun depan diperkirakan pada kisaran 2,45 - 2,82%.
Kemudian, keseimbangan primer diperkirakan defisit 0,3-0,61%.
"Defisit untuk tahun 2025 ada di kisaran 2,45 hingga 2,82% di mana keseimbangan primer juga mengalami defisit di 0,30 hingga 0,61% dari GDP," jelas Sri Mulyani.
Sedangkan di tahun depan, pembiayaan investasi diusulkan antara 0,30 hingga 0,50% dari produk domestik bruto (PDB).
Berikutnya, rasio utang diperkirakan di kisaran 37,98 hingga 38,71%.
"Rasio utang tetap kita jaga pada kisaran 37,98 hingga 38,71% dari GDP," terang Bendahara Negara itu.
Sri Mulyani menambahkan, bahwa untuk menjaga rasio utang, Kemenkeu akan memaksimalkan pembiayaan internal seperti melalui Badan Layanan Umum (BLU) serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sebagai informasi, pada tahun depan pemerintahan telah berganti di mana Indonesia akan dipimpin Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka.

