Sewa Tanker Berpeluang Naik Lagi, Cermati Saham Emiten Pelayaran

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Belakangan ini timbul fenomena peningakatan pemesanan kapal tanker untuk menampung kelebihan pasokan minyak mentah.

Hal itu dapat memicu kenaikan harga sewa tanker. 

Berdasarkan laporan Bloomberg, Trafigura Group, perusahaan minyak independen terbesar kedua di dunia, pada minggu lalu memesan sekitar selusin super tanker yang dapat menampung total 24 juta barel minyak - menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Secara keseluruhan, sekitar 18 charter serupa telah disepakati dengan Royal Dutch Shell Plc, Vitol Group dan Lukoil di antara mereka yang juga menyewa kapal.

Sementara itu, China National Chemical Corporation Ltd, yang dikenal sebagai ChemChina, juga telah memesan kapal tanker.

Perusahaan minyak besar lainnya, termasuk Vitol, Litasco dan Glencore juga dalam beberapa hari terakhir memesan kapal tanker besar untuk menyimpan solar hingga 90 hari, menurut data pengiriman dan perusahaan-perusahaan minyak lainnya.

Di sisi lain, pada gelombang penyimpanan terapung pertama tahun ini dari Maret hingga Mei, tarif sewa untuk segmen kapal tanker besar melonjak lebih dari 100 persen untuk mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.

Mungkinkah gelombang kedua potensial ini juga mendorong tarif sewa kapal tanker minyak besar ke posisi tertinggi baru-baru ini lagi?

Ini tentunya akan menguntungkan bagi perusahaan perkapalan dunia.

Fenemana itu di picu oleh perkiraan OPEC akan permintaan minyak global tumbuh 6,6 juta barel per hari menjadi rata-rata 96,9 juta barel per hari tahun depan.

Perkiraan yang diperbarui ini juga lebih rendah 400.000 barel per hari dari perkiraan sebelumnya.

Lockdown sebagian yang diterapkan kembali di kebanyakan belahan dunia memperlambat pemulihan permintaan minyak selama sisa tahun 2020.

Namun produksi minyak meningkat lagi. Sementara OPEC + memangkas produksi minyak sebanyak 10,7 juta barel per hari pada Mei hingga Juni.

Pemangkasan produksi minyak diturunkan menjadi 7,6 juta barel per hari mulai Juli dan turun lebih lanjut menjadi 5,6 juta barel per hari setelah Desember.

Kondisi ini akan meningkatkan produksi setidaknya 5,1 juta barel per hari sampai Januari 2021 tanpa memperhitungkan peningkatan produksi dari negara penghasil minyak lainnya.

Norwegia sendiri meningkatkan produksi minyaknya menjadi 1,7 juta barel per hari selama bulan Juli dan Libya diperkirakan akan segera kembali ke tingkat produksi minyak sebelumnya sebesar 1,2 juta barel per hari, suatu peningkatan gabungan sebesar 1,4 juta barel per hari.

Selain itu, beberapa anggota OPEC + memproduksi minyak jauh lebih banyak daripada kuota mereka.

International Energy Agency memperkirakan, dalam laporan pasar minyaknya yang banyak diperhatikan kalangan minyak, bahwa UEA memompa 3 juta barel per hari di bulan Juli.

Sehingga penggunaan kapal tanker minyak ini secara signifikan sebagai tempat penyimpanan terapung menyebabkan tarif kapal tanker minyak melonjak ke posisi tertinggi dalam sejarah karena pasokan kapal berkurang.

Menurut Petro-Logistics SA, yang melacak pergerakan pengiriman minyak internasional, negara itu memasok lebih dari itu pada Agustus.

Ini jauh lebih banyak dari kuota mereka yang sebesar 2,6 juta barel per hari.

Nigeria, Irak, Rusia dan Kazakhstan juga melampaui kuota mereka selama periode Mei hingga Juli. Faktanya, total kelebihan produksi bisa mencapai 2,0 juta barel per hari melebihi kuota mereka.

Hal ini menjadi perhatian utama para perusahaan minyak karena pemicu utama perang harga minyak yang dimulai pada Maret 2020 adalah kelebihan produksi dari berbagai anggota OPEC +.

"Ketika salah satu negara inti OPEC+ gagal memenuhi target kepatuhannya, hal itu menimbulkan pertanyaan pasar tentang keberlanjutan seluruh kesepakatan pemangkasan produksi minyak," kata Bill Farren-Price, Direktur Konsultan RS Energy Group dalam laporannya, Kamis (24/9/2020).

Ketika ada lebih banyak produsen minyak yang tidak patuh, risiko terulangnya perang harga minyak meningkat.

Dalam perang harga minyak di bulan Maret, kelebihan produksi minyak yang sangat besar ditambah produksi Arab Saudi yang mencapai lebih dari 12 juta barel per hari dibandingkan dengan permintaan minyak yang masih sangat lemah menyebabkan melimpahnya minyak yang harus disimpan di kapal tanker minyak.