Tarif Tanker Naik, BULL Yakini Laba 2020 Tumbuh 3,5 Kali

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) meyakini EBITDA atau laba bersih sebelum pajak, bunga, penyusutan dan amortisasi pada tahun 2020 diperkirakan akan melebihi 2,5 kali dari tahun 2019 dan juga laba bersih akan meningkat 3,5x lebih tinggi dari tahun 2019.

Direktur Utama  BULL, Kevin Wong menyatakan, keyakinan itu didasarkan oleh pertumbuhan armada yang berkelanjutan pada kuartal kedua tahun 2020, di mana BULL menerima 3 kapal besar tambahan, yang mengembangkan armada menjadi 33 kapal dengan total kapasitas sebesar 2,3 juta DWT.

“Sehingga nilai pasar kami saat ini masih belum sepenuhnya mencerminkan kinerja kami karena PER (price earning ratio) kami tetap serendah 3,0 - 3,5 kali dan EV/EBITDA serendah 3,5x - 4,0 kali,” kata Kevin di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Ia menambahkan, pandemi COVID-19 telah menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam permintaan tambahan untuk kapal tanker minyak untuk tempat penyimpanan minyak terapung dan sempat mencapai titik tertinggi dimana lebih dari 400 kapal tanker digunakan untuk penyimpanan minyak terapung pada puncaknya, yang merupakan sekitar 10% dari armada tanker global.

“Dinamika ini tercermin dalam tingkat TCE yang melonjak di kuartal kedua 2020 dari tarif sewa rata-rata yang sudah cukup tinggi pada kuartal pertama tahun 2020. TCE rata-rata untuk kapal tanker Long Range 2 (LR2) (kapal tanker ukuran sekitar 110,0000 DWT) meningkat sebesar 74,8%,” papar dia.

Ia melanjutkan, pemulihan permintaan minyak China yang cepat, telah mengakibatkan permintaan minyak melonjak menjadi 13 juta barel per hari pada kuartal kedua dan diperkirakan akan lebih tinggi lagi YoY mulai kuartal ketiga 2020 dan seterusnya dibandingkan dengan 2019.

Menurut Wood Mackenzie, kondisi tersebut telah menyebabkan kepadatan pelabuhan yang parah dengan jumlah kapal yang menunggu untuk membongkar muatan mereka meningkat dari kurang dari 10 kapal pada bulan April menjadi lebih dari 70 kapal pada bulan Juni.

Situasi ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan karena impor China yang tetap kuat.

“Mengingat besarnya pemulihan permintaan untuk kapal tanker dari peningkatan produksi minyak dan kendala ketersediaan kapal tanker karena kepadatan pelabuhan yang parah sebagai akibat dari pemulihan permintaan minyak yang cepat, kembalinya scrap kapal dan banyaknya kapal tanker yang akan berhenti operasi sementara untuk menjalankan kewajiban docking pemeliharaan, tarif kapal tanker internasional diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir tahun 2020 dan berlanjut hingga tahun 2021,” Jelas Kevin.