Pelaksanaan Jauh Dari Rencana, OJK Akan Telisik Buy Back Tanpa RUPS

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku akan melakukan penelusuran pelaksanaan pembelian kembali saham beredar (Buy Back) tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pasalnya, dari empat emiten yang telah habis periode pelaksanaan Buy Back, tapi pelaksanaannya jauh dari rencana yang dimumkan tiga bulan yang lalu.

“Ini lagi di cek datanya di OJK,” jawab Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK, Fakhri Hilmi melalui pesan singkat, Kamis (18/6/2020).

Adapun emiten yang dimaksud, yakni PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) telah melakukan pembelian kembali sebanyak 100.930.300 lembar saham di publik, dengan harga rerata pembelian senilai Rp364,39 per saham. Dengan demikian, emiten properti tersebut menggelontorkan dana sebesar Rp34,9 miliar.

“Perseroan telah selesai melaksanakan pembelian kembali saham sebagaimana ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan OJK Nomor: 02/POJK.04/2013,” tulis Presiden Direktur SSIA, Johannes Suriadjaja dalam keterbukaan informasi pada laman Bursa Efek Indonesia, Kamis (18/6/2020).

Padahal, dalam keterbukaan informasi perseroan tertanggal 13 Maret 2020 disebutkan, perseroan akan melakukan buy back sebanyak-banyaknya senilai Rp300 miliar. Adapun batasan harga paling tinggi dipatok pada level Rp800 per lembar saham.

Bahkan, terdapat dua emiten yang sama sekali tidak melaksanakan rencana yang telah disampaikan. Kedua emiten tersebut, yaitu; PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Timah Tbk (TINS).

Rincinya, emiten BUMN pengelola jalan tol itu melaporkan tidak melakukan pembelian kembali saham beredar.

“Seiring dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang berdampak pada penurunan volume lalu lintas dan pengaruh pada operasional sehingga fokus perseroan untuk menjaga likuiditas,” tulis Sekretaris Perusahaan JSMR, M Agus Setiawan dalam keterbukaan informasi perseroan pada tanggal 12 Juni 2020.

Padahal, dalam keterbukaan informasi tertanggal 12 Maret 2020, JSMR merencanakan akan melakukan pembelian kembali saham beredar sebanyak-banyaknya senilai Rp500 miliar.

Serupa dengan itu, emiten tambang timah BUMN, TINS juga melaporkan tidak melaksanakan rencana pembelian kembali saham yang telah disampaikan tiga bulan sebelumnya.

“Perseroan saat ini tetap menjaga kondisi arus kas untuk bisa tetap menjalan sesuai strategi pengembangan di tengah pandemi Covid-19,” tulis Direktur Keuangan TINS, Wibisono dalam keterbukaan informasi tertanggal 17 Juni 2020.