ANALIS MARKET (08/12/2020) : Obligasi Berdurasi Jangka Pendek Masih Menjadi Primadona

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih bergerak stagnan ditengah situasi dan kondisi gegap gempita di pasar saham akibat kehadiran vaksin.

IHSG bergoyang, obligasi ditendang, apakah benar obligasi sudah tidak menarik?

Dimata pelaku pasar dan investor yang memiliki tingkat resiko moderat, kehadiran obligasi menjadi pilihan tersendiri dalam memilih instrument investasi yang memiliki tingkat resiko yang terukur namun memberikan imbal hasil yang pasti.

Obligasi menjadi salah satu pilihan, tatkala harga saham mengalami kenaikkan terus menerus diluar dari harga wajarnya.

Pertanyaannya adalah, sejauh mana harga saham dapat bertahan ditengah kenaikkan yang luar biasa dan sudah hampir menyentuh 6.000?

Apakah benar, obligasi sekarang menjadi pilihan kedua?

Ditengah gegap gempita harga saham di luar sana, banyak yang mengatakan bahwa kenaikkan harga saham saat ini berpotensi sebuah pertanda bahwa kelak nanti penurunannya akan jauh lebih sakit apabila ternyata kenyataan terkait dengan vaksin tidak seindah kenyatannya.

Apabila faktor pendukung penopang ekspektasi dan harapan pudar, maka kekecewaan akan mendorong pasar mengalami penurunan.

Dan disaat itulah obligasi menjadi harapan untuk menjaga ekspektasi return dari masing masing portfolio.

Keadaan obligasi saat ini merupakan salah satu penopang apabila ternyata harga saham mengalami penurunan, meskipun sering kali obligasi tidak dilihat, namun bukan berarti pasar obligasi kehilangan peminatnya.

Ada namun tidak banyak, masih seputar Bank Indonesia yang bermain karena adanya kebutuhan akan menutupi deficit APBN pemerintah.

Apakah imbal hasil pasar obligasi masih berpotensi mengalami penurunan?

Mungkin saja, namun akan bermain di rentang yang ada saat ini yaitu, 6.15% - 6.25% untuk imbal hasil obligasi 10y. Namun ada sesuatu yang menarik lho pemirsa, apabila kita melihat kepemilikkan asing saat ini, justru kembali turun dari sebelumnya 26% menjadi 25.8%, tapi kok pasar obligasi masih baik baik saja? Karena ada Bank Indonesia disana.

Terkait dengan lelang yang diadakan oleh pemerintah hari ini, tentu obligasi berdurasi jangka pendek masih menjadi primadona, namun rising star mungkin akan di pegang oleh obligasi PBS 28.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Selasa (08/12) pagi ini, pasar akan dibuka bervariatif dengan rentang pergerakan 35 – 75 bps.

“Kami merekomendasikan wait and see dan ikuti lelang hari ini,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (08/12/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.VALUASI FUNDAMENTAL VS VALUASI SENTIMENT

Gegara vaksin, IHSG kembali bergoyang kemarin. Seperti De Ja Vu beberapa waktu yang lalu, begitu vaksin Sinovac datang pada pagi hari dan segera diantar ke Bandung, gegap gempita sangat terasa kala itu. Semua beban permasalahan IHSG terasa lenyap dalam seketika, dampak hebat tersebut terjadi secara signifikan pada sector farmasi yang mengalami lonjakan hebat disusul dengan beberapa sector lainnya. Kemarin pun, IHSG khususnya sector farmasi mengalami hal yang sama, ketika vaksin Sinovac tiba. Beberapa pertanyaan pun muncul, apakah ini effect-nya akan terjadi berkali kali ataukah hanya saat ini? Sejauh ini kami selalu mengatakan bahwa pergerakan pasar masih didominasi oleh ekspektasi dan harapan, yang dimana kedua hal tersebut membutuhkan asupan untuk menjaga kekuatannya. Apabila tidak ada asupan yang menguatkan kedua hal tersebut, maka kekhawatiran akan melanda pasar yang akan membuat pasar takut untuk masuk ke dalam asset yang beresiko seperti saham. Saat ini dalam kurun beberapa minggu terakhir katakan saja dimulai dari kemenangan Joe Biden yang membawa capital inflow ke Indonesia, dalam kurun waktu 5 hari kemudian berita datang dari tingkat efektivitas vaksin Pfizer yang menyentuh 90%. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Moderna pun mengikuti tingkat efektivitas yang sama seperti seakan akan memberikan apa yang diinginkan oleh pasar. Kekuatan ekspektasi dan harapan untuk menopang pergerakan pasar, yang sebetulnya pada kenyataannya adalah variable x factornya belumlah hilang. Virus coronanya masih ada, dan selama hal tersebut masih ada, ketidakpastian masih akan menyelimuti di pasar. Kami pernah menyampaikan bahwa ini bukan lagi berbicara valuasi fundamental, tapi berbicara mengenai valuasi sentiment. Valuasi fundamental bernilai secara proyeksi, namun berbicara valuasi sentiment bernilai secara pergerakan pasar. Saat ini secara valuasi fundamental, beberapa saham mungkin telah berada melebihi dari nilai proyeksi, oleh sebab itu beberapa saham dapat kita katakan mahal. Sebagai informasi kita bisa menengok ke halaman 4, dimana ada harga saham saat ini bersanding dengan harga valuasi, sehingga apabila harga saat ini telah melebihi harga dari valuasi, maka dapat dikatakan saham tersebut sudah menjadi mahal. Namun berbicara valuasi sentiment, apalah arti mahal dan murah? Lho mengapa demikian? Karena berbicara valuasi sentiment, berarti berbicara ekspektasi dan harapan, harga saham nanti bukan hari ini. Berbicara harga saham nanti, berarti harga saham saat ini murah karena adanya pemulihan perekonomian ekonomi nasional kedepannya. Yang akan mendorong hampir semua sector akan mengalami kebangkitan. Namun kalau kita kaitkan harga saham saat ini dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, dapat kita katakan bahwa harga saham sudah dikategorikan mahal. Atas dasar apa mahal? Vaksinnya kan belum hadir saat ini, tapi nanti akan hadir. Pemulihan ekonomi juga belum terjadi secara signifikan saat ini, tapi nanti perekonomian akan pulih. Vaksin sendiri harus melewati 3 tahap, produksi, distribusi, dan vaksinasi. Belum termasuk proses license yang mungkin fase tersebut dapat dilewati secara cepat dalam kurun waktu 24 jam. Namun ke 3 hal tersebut masih akan memakan waktu mungkin diluar dari perkiraan. Lantas apa yang harus dilakukan oleh pelaku pasar dan investor saat ini. Apakah tidak boleh kita bertransaksi dengan menggunakan valuasi sentiment? Boleh saja, namun yang harus diperhatikan adalah; 1. Sejauh mana valuasi sentiment tersebut bernilai? 2. Sejauh mana valuasi sentiment tersebut memberikan dorongan effect terhadap pasar? 3. Sejauh mana dalam durasi waktu, valuasi sentiment tersebut dapat bertahan di pasar? Ini merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pelaku pasar dan investor saat ini dan dikombinasikan dengan jangka waktu investasi oleh masing masing investor. Apabila investor memiliki durasi jangka waktu panjang, tentu harga saham saat ini dapat kita katakan murah, karena nanti pemulihan perekonomian akan terjadi. Apabila investor memiliki durasi jangka pendek, valuasi fundamental mungkin akan kalah saing dengan valuasi sentiment yang mampu mendorong harga saham mengalami kenaikkan lebih tinggi dalam waktu yang singkat. Apabila pelaku pasar dan investor siap untuk bermain, cuan bukanlah sekedar mimpi. Apalagi Bapak Presiden Jokowi sudah mengatakan bahwa awal tahun depan, January, Indonesia akan kembali kedatangan vaksin sinovac dalam jumlah yang lebih besar. Tentu hal ini akan membuat situasi dan kondisi yang sama berpotensi terjadi kembali. Kenaikkan saham saham di sector farmasi mungkin akan menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang akan diikuti dengan kenaikkan saham lainnya. Apabila terjadi pada bulan January, berarti ada kemungkinan namanya itu January Effect dan sentimentnya sudah kita dapatkan jauh sebelum January Effect terjadi. Namun sebelum saya mengakhiri tulisan ini, apakah wajar kenaikkan harga saham yang terjadi saat ini? Effect bulan December yang tidak pernah membuat IHSG mengalami koreksi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, ataukah ada sebuah tanda tanda yang lain yang justru harus kita khawatirkan? Well, itu cerita nanti dibulan January, saat ini tuai dulu cuan untuk kita nikmati.

2.SENJATA RAHASIA DARI SUGA

Ini bukanlah cerita tentang Tsubasa pemirsa, ini cerita berasal dari Yoshihide Suga, Perdana Menteri Jepang yang tengah bersiap untuk memberikan kisi kisi terkait dengan paket stimulus pertamanya dalam era pemerintahannya sebagai Perdana Menteri untuk menopang perekonomian. Langkah langkah yang akan dilakukan oleh Suga memiliki nilai total stimulus senilai 73.6 triliun yen atau $707 miliar menurut berita terakhir yang kami dapatkan. Paket tersebut memiliki porsi sebanyak 40 triliun dalam bentuk kebijakan fiscal, seperti pinjaman, investasi, serta pengeluaran langsung. Sebagian pengeluaran senilai 19.2 triliun yen akan diambil dari anggaran tambahan ketiga. Sejauh ini Suga menghadapi tantangan yang cukup berat yang dimana dirinya harus menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk menjadi penganti Shinzo Abe. Saat ini pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal ke 3 akan keluar pada pagi hari nanti pada pukul 06.50 WIB, ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana perekonomian Jepang menunjukan pemulihan ekonominya. Kami melihat bahwa perekonomian Jepang akan berada pada posisi 4.5% - 5% pada kuartal 3 yang dimana menjadi harapan untuk membantu menutup kuartal 2020 ini lebih manis dari sebelumnya. Suga akan berusaha untuk mempertahankan momentum saat ini, sekaligus menjaga harapan perekonomiannya akan kehadiran vaksin yang mungkin akan tiba sebentar lagi. Keinginan Suga untuk mendorong perekonomiannya melalui kenaikkan tingkat konsumsi mungkin akan menemui kesulitan karena berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona. Namun kami melihat, sama seperti Indonesia, hanya tinggal melihat mana yang akan lebih kuat, kesehatan atau perekonomian, meskipun jauh di dalam hati kami, inginnya kesehatan dan perekonomian dapat berjalan beriringan. Pemerintah Jepang masih akan memperpanjang program Go To Travel hingga bulan Juni mendatang, dengan meningkatkan pengeluaran untuk sector kesehatan dan pemberian bantuan langsung tunai kepada beberapa kepala keluarga tunggal untuk menopang perekonomian setiap keluar. Anggaran tersebut pada akhirnya berkisar 11.3% dari total ukuran perekonomian Jepang. Rinciannya sebagai berikut pemirsa; 1. 5.9 triliun yen untuk tindakan wabah virus corona. 2. 18.4 triliun yen untuk perubahan secara structural perekonomian pasca corona. 3. 5.6 triliun yen untuk management corona. 4. 5 triliun yen akan digunakan sebagai dana cadangan yang akan digunakan sesuai kebutuhan pada akhir Maret 2021. 5. 5 triliun yen lagi diambil dari dana cadangan untuk anggaran tahun fiscal berikutnya. 6. 20.1 triliun yen sebagai anggaran ekstra apabila dibutuhkan untuk melakukan beberapa tindakan. 7. 2 triliun yen akan digunakan untuk mendanai beberapa project green technology serta dukungan perubahan structure digitalisasi yang dimana hal tersebut dikemukakan oleh Suga sejak pertama dirinya di lantik kala itu. Oleh sebab itu, kami melihat dengan nilai ukuran stimulus yang siap diberikan, bukan tidak mungkin rasanya Jepang akan mampu bertahan untuk melewati masa masa sulit seperti sekarang ini. Perjalanan masih amat jauh dari kata pulih, namun tidak ada salahnya untuk melakukan langkah kecil pertama dimulai dari hari ini.