Kemenkeu Tunda Kenaikan Cukai Rokok Bulan Ini, Begini Alasannya

Foto : istimewa

Pasardana.id - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih meminta tambahan waktu untuk menentukan kenaikan tarif cukai hasil tembakau atau rokok di tahun depan.

Sebelumnya disebutkan, pengumuman kenaikan tarif cukai rokok itu diumumkan paling lambat pada awal Oktober.

Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi, pihaknya perlu tambahan waktu untuk merumuskan besaran kenaikan tarif cukai rokok untuk 2021.

Itu diperlukan karena kondisi ekonomi dan industri rokok tengah tertekan pandemi virus corona atau covid-19.

"Ini perlu kehati-hatian dan tambahan waktu saya kira. Mudah-mudahan, (keputusan) ini bisa segera keluar dan bisa segera diumumkan," ujar Heru dalam konferensi pers virtual APBN KiTa, Senin (19/10/2020).

Heru juga menjelaskan, ada beberapa pertimbangan Kementerian Keuangan meminta tambahan waktu.

Pertama, perkembangan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kembali normal dari tekanan pandemi corona, meski tanda-tanda pemulihan sudah mulai terlihat.

Kedua, perkembangan industri rokok, baik dari sisi permintaan, produksi, hingga para pekerja yang ada di sektor ini. Pertimbangan perlu dilakukan karena pandemi turut menekan industri rokok.

"Industri ini telah mempekerjakan pekerja langsung maupun tidak langsung, sehingga ini harus mendapat perhatian kita juga," tuturnya.

Ketiga, keinginan pemerintah agar pengenaan cukai bisa menjadi instrumen pengendalian konsumsi rokok di masyarakat. Khususnya perokok usia muda.

"Pemerintah sangat berhati-hati dalam merumuskan kebijakan tarif dan beberapa instrumen kebijakan lainnya yang berhubungan dengan rokok ini. Kita masih harus mengoordinasikan dengan beberapa kepentingan," terangnya.

Sebagai informasi, penerimaan DJBC Januari-September 2020 terutama didorong realisasi cukai, khususnya HT yang tumbuh karena adanya limpahan penerimaan tahun sebelumnya (efek PMK-57), dan penerimaan BK bulan September tumbuh 9,40% (mtm), didorong peningkatan ekspor mineral terutama tembaga dan bauksit.

Sementara itu, realisasi PNBP pada bulan September 2020 lebih banyak ditopang dari kinerja positif pendapatan BLU yang tumbuh sebesar 34,2% (yoy), khususnya dari pendapatan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, pendapatan jasa pelayanan pendidikan, dan pendapatan pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional.