Harga SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Bervariasi Seiring Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 18 Juni 2019 kemarin, harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak bevariasi dengan kecenderungan mengalami penguatan yang didorong oleh perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat para pelaku pasar yang masih menantikan hasil FOMC Meeting.

Dalam riset yang dirilis Rabu (19/6/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, pada perdagangan kemarin (18/6), harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penguatan.

Pergerakan harga tersebut dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika yang juga ikut bergerak beragam seiring dengan jelang disampaikannya suku bunga acuan Amerika oleh The Fed pada pertengahan pekan ini.

Kondisi tersebut berpeluang mengakibatkan para pelaku pasar melakukan aksi wait and see terhadap hasil FOMC Meeting tersebut.

Meskipun para pelaku pasar yakin suku bunga masih bisa ditahan di kisaran 2,25—2,50% pada pertemuan bulan ini, hanya saja para pelaku pasar juga masih menantikan pernyataan yang akan disampaikan oleh Gubernur  The Fed, Jereme Powell pada hari Kamis, tanggal 20 Juni 2019.

“Apabila pernyataan tersebut bernada dovish maka para pelaku pasar semakin yakin terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan global di periode selanjutnya,” jelas I Made.

Sementara itu, dari proses lelang kemarin (18/6), pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp24,00 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp54,79 triliun.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil lelang Surat Utang Negara sebelumnya yang mencapai Rp10,80 triliun dari total penawaran sebesar Rp26,19 triliun.

“Hal ini menjadi indikasi bahwa pasar keuangan domestik masih mampu menarik minat para investor,” sebut I Made.

Lebih rinci diungkapkan, harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin (18/6), bergerak dengan arah bervariasi dengan kecenderungan mengalami penguatan hingga sebesar 350 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 34,2 bps.

Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) tercatat mengalami rata-rata kenaikan terbatas hanya sebatas 7,7 bps yang berdampak pada menurunnya tingkat imbal hasil sebesar 6 bps.

Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan harga hingga sebesar 19,2 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil berkisar antara 1,3 bps hingga 5 bps.

Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) didapati terjadinya penurunan rata-rata harga sebesar 29,2 bps yang mengakibatkan terjadinya kenaikan imbal hasil hingga sebesar 91,2 bps.

Secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 5 bps pada level 7,109%; penurunan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 1,1 bps pada level 7,642%.

Sedangkan untuk seri acuan tenor 15 tahun mengalami kenaikan terbatas dibawah 1 bps pada level 7,987% dan kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 20 tahun sebesar 0,8 bps pada level 8,139%. 

Lebih lanjut, riset MNC Securities juga mengungkapkan, pada perdagangan kemarin (18/6), imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing mengalami penurunan pada sebagian besar serinya.

Harga dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 12,8 bps yang mendorong penurunan imbal hasil sebesar 2,8 bps di level 3,104%.

Adapun pergerakan harga dari INDO29 juga ikut naik sebesar 35,8 bps yang berdampak pada turunnya imbal hasil sebesar 4,1 bps di level 3,476%.

Sementara itu, dari INDO44 dan INDO49 mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 60,2 bps dan 62,5 bps yang berdampak pada penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 3,2 bps di level 4,405% dan 3,3 di level 4,330%.