Daya Beli Masyarakat Akan Topang Pertumbuhan Ekonomi 2019

foto: istimewa

Pasardana.id - Awal tahun 2019 dibuka dengan sangat menarik untuk para investor, karena ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda.

Hal ini mengurangi ketidakpastian arah pasar keuangan di tahun 2018 lalu. Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang optimal ketimbang reksa dana lainnya.

Januari 2019 lalu, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Amerika Serikat di angka 2,25%-2,50%, yang mengurangi kekhawatiran investor akan terlalu cepatnya kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

Selain itu, investor juga memiliki keyakinan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok dapat terselesaikan, yang meredakan ketegangan mengenai ketidakpastian pasar keuangan global selama tahun 2018.

Sebagai respon atas kebijakan The Fed tersebut, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Indonesia di level 6,00%.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi Global diperkirakan akan melambat di tahun 2019, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih akan akan positif 5.0%-5.4% sepanjang tahun 2019 ditopang oleh daya beli konsumen yang terjaga dan dampak positif persiapan pemilu. Pertumbuhan ekonomi umumnya positif ke pertumbuhan pasar saham, sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio,” kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya, Kamis (14/2/2019).

Meski demikian, Ivan menyebutkan ada beberapa agenda yang masih harus diperhatikan seperti Perkembangan politik Inggris, terutama menjelang persetujuan proposal Brexit oleh Parlemen Inggris, pertumbuhan ekonomi global yang melambat, yang dimotori oleh perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok, dan jelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019.

Selain itu, prediksi mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019, cenderung menjadi sentimen yang cukup baik bagi emerging market, karena walaupun pertumbuhan developing market diprediksi akan melambat tetapi pertumbuhan emerging market diperkirakan akan tetap stabil dan cenderung membaik.

Indonesia sebagai salah satu negara emerging market dengan fundamental yang kuat memberikan tingkat return dan risiko yang menarik untuk menjadi tujuan investasi para investor asing.

Hal ini terlihat dari total dana asing yang tercatat net buy sebesar Rp11,31 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang bulan Januari 2019 dan penguatan mata uang Indonesia Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 2,88%.

Dari sisi domestik, fundamental Indonesia yang kuat terlihat dari terjaganya nilai inflasi sepanjang tahun 2018, tercatat sebesar 3,13%, yang menunjukkan kondisi perekonomian yang stabil.

Sementara itu di bulan Januari lalu juga dibuka dengan kondisi politik Indonesia yang relatif stabil, setelah debat pertama antara capres-cawapres berakhir dengan baik.

Iklim investasi pada bulan Februari 2019 masih akan terfokus pada kelanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan diantara kedua negara ekonomi terbesar tersebut.

Investor juga akan melihat perkembangan dari Brexit di Eropa, dan hasil laporan keuangan perusahaan tahun 2018 yang mulai dirilis bulan Februari 2019.